Rahasia Seorang Istri
Markas Cetar - Sebuah cerita unik berjudul Rahasia Seorang Istri kali ini akan coba dibagikan simak keseruan cerita ini yuk.
Sebelum Cerita Ini gua pubslih dan juga dibaca orang kalian para sahabat Markas Cetar , ada baiknya kalian mengetahui sesuatu.
Bahwa sebenernya cerita ini di ketik oleh seorang Kenalan saya dari dunia maya tepatnya facebook , Saya panggil dia kakak.
Kakak ini adalah seorang penulis yang sering banget tulisannya gua baca di sebuah grup komunitas penulis.
Terlebih imajinasinya bagus dan juga kata-katanya yang bener-bener bikin hati selalu bilang , kenapa dulu sekolah gua ga pernah mau belajar Bahasa Indonesia dengan bener , dan akhirnya sekarang nyesel.
Dari jari-jemari Novie Purwanti orang yang baru chat saya sekitar hari selasa tanggal 17 Oktober ini , Sebuah karya tulisa Rahasia Seorang Istri tercipta.
Kata-kata diatas mirip banget kaya iklan kecap di Tipi. haha
Yang jelas si kakak ini , ya itu Novie Purwanti.
Kalo pada suka cerita yang True Story atau Kisah nyata bisa juga baca :
Dan mari kita simak ceritanya,
-
Sebenarnya tidak ada yang istimewa pada sahabat sekaligus tetangga sebelah rumah. Dia gendut, pesek, berbibir tebal dan rambutnya tipis. Namun kekurangan itu tertutupi oleh kulitnya yang putih dan bersih. Untuk ukuran postur wanita, ia lumayan tinggi. Sekitar 170 cm.
Aku duduk di sofa coklat tua. Hilwa membawakan segelas es jeruk yang terlihat segar.
"Usia pernikahan lima, sepuluh dan lima belas tahun sangat rawan. Pada saat-saat itulah, bosan dan hambar dirasakan oleh pasangan." ucapku sambil menyeruput minuman.
"Banyak lelaki yang selingkuh pada masa itu," lanjutku, "bulan depan tepat 15 tahun usia pernikahanku dan Mas Edo. Aku jadi sedikit khawatir."
Hilwa tersenyum. Sahabat sejak SMP itu pembawaannya kalem dan sepertinya dia tidak pernah terlibat masalah dengan suaminya.
Pasangan Hilwa dan Arkan terkenal paling romantis sekomplek, tiap kali keluar rumah mereka selalu bergandengan tangan. Aku sering memergoki kening Hilwa dicium ketika mengantarkan suaminya ke mobil untuk berangkat kerja.
"Nggak usah mikir macam-macam, do'akan saja suamimu biar tidak kecantol wanita lain. Selain itu, kamu juga harus pandai merawat diri dan memuaskan suami." ujarnya panjang lebar.
Hilwa sangat modis, meskipun di dalam rumah, ia selalu memakai baju keluaran terbaru dan wajahnya berseri tersapu make up tipis.
"Apa ada rahasia biar suami lengket kaya lem besi?" tanyaku menyelidik.
"Sini ikut aku." Hilwa menggandeng tanganku ke dalam kamarnya.
Rupanya di ujung kamar ada pintu tembusan. Terlihat taman mungil berumput hijau, di tengahnya terdapat bonsai beraneka ukuran.
Hilwa mengajakku ke lima pot hitam yang terjajar rapi di sisi kiri taman. Tanaman daun sirih menjalar pada sebuah kayu yang menancap di tengah pot.
"Tiap hari aku minum rebusan daun sirih setengah gelas biar wangi dan singset." kerlingnya bangga.
"Dan yang paling penting, setiap hari aku menawarkan diri pada suami. Minat tidak minat pokoknya ditanya. Ehem-ehem itu."
Bibirku berdecak, membandingkan denganku yang ala kadarnya.
"Sorry ya, Ta. Waktunya menjemput si kembar pulang sekolah. Besok mereka akan diikutkan olimpiade matematika tingkat daerah. Nanti kita lanjut lagi. "
Aku mengikuti Hilwa keluar kamar, wanita anggun itu menyambar kunci mobil di depan meja rias.
Padahal tujuanku ke sini untuk memberitahu Hilwa kalau kemarin waktu ikut seminar bisnis di Hotel Yellow, aku melihat Arkan memeluk pinggang ramping perempuan berbaju terbuka keluar dari hotel.
Melihat perjuangan dan cinta Hilwa untuk Arkan, aku jadi tidak tega untuk mengatakannya.
Anak-anak sudah tidur. Seharian mereka belajar di sekolah Full Day. Jam delapan malam suasana rumah sepi. Tinggal aku dan Mas Edo yang asik dengan ponsel masing-masing di dalam kamar.
"Mas, aku mau tanya."
"Apa," jawabnya singkat tanpa mengalihkan tatapan pada layar ponsel. Jemarinya sibuk menekan tombol-tombol yang tak kuketahui gunanya.
"Mas! Serius ini. Gamenya dimatikan dulu!" Kucubit pinggang berlemak itu. Mas Edo berteriak geli.
"Iya-iya. Ada apa, sih."
"Kalau nggak sengaja melihat saudaramu selingkuh, apa yang akan mas lakukan? Diam saja atau mengatakan kepada pasangannya?"
"Saudaraku baik semua, gak ada yang selingkuh."
"Mas Edo!" Mulutku sudah maju.
"Gini lo, Bun. Setiap rumah tangga itu punya ujian hidupnya masing-masing. Dan pastinya, Allah tak akan menguji diluar kesanggupan manusia. Cobaan bisa berupa penyakit, anak-anak, kekayaan, kemiskinan, perselingkuhan dan banyak lagi yang lainnya. Memble bibirku nanti kalau menerangkan banyak-banyak. Dengarkan nasihat ustadz di you tube aja. Banyak itu dijelaskan. "
"Terus apa yang harus dilakukan ketika memergoki orang yang kita kenal berselingkuh?"
"Nggak boleh asal tuduh, lho. Jatuhnya bisa fitnah. Harus di cek lagi beritanya bener apa enggak."
"Udah bener. Seratus persen," sahutku.
"Kalau gitu diberitahu aja pasangannya, tapi harus hati-hati ngomongnya. Jangan menambah-nambahi cerita, katakan apa adanya dengan tujuan mereka bisa evaluasi diri. Bukan menghancurkan hubungan dengan ngomporin nggak jelas."
"Gitu, ya Mas?" Aku manggut-manggut.
Ya, Hilwa harus diberitahu. Besok setelah selesai mengajar ekstra mengaji di sekolah, aku akan memberitahunya.
Tiba-tiba tipsnya Hilwa terngiang jelas di telinga.
"Hm ... hm, Mas Edo." Aku menepuk pundak sosok berisi yang mulai tengkurap sambil membuka ponsel.
"Apa lagi?"
"Emm ... apa Mas mau itu?" Ragu-ragu aku mengucapkan, rasa panas mulai menjalar di wajah. Meskipun sudah menikah selama lima belas tahun tapi jarang sekali aku duluan yang 'minta jatah'. Nah ini malah 'menawarkan diri'
"Itu, main kodok-kodokan. Ah! Gak jadi deh!"
Memalukan! Tanpa menunggu reaksinya, aku mengempaskan tubuh meringkuk menghadap tembok. Kepala kututupi bantal.
"Lho, Bund. Tumben amat. Apa Bunda mau?" goda Mas Edo memeluk pinggangku dari belakang.
"Kodok-kodokan? Hihihi."
"Gak!"
"Ayolah. Asiiik. Bentar, aku siap-siap dulu."
Mas Edo melesat keluar kamar. Biasanya sebelum melakukan 'ritual', dia akan bersih-bersih badan dan menggosok gigi.
Kebiasaan itu bahkan tidak berubah setelah sekian lama. Aku tersenyum, ternyata menawarkan diri tak sesulit yang kubayangkan.
Baca juga Kontes Seo berhadiah yang sedang berlangsung :
"Hilwa, aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu janji nggak akan marah dan bisa saja itu salah paham." Aku membuka percakapan.
Setelah memastikan Arkan sudah berangkat kerja, aku segera ke rumah Hilwa. Kebetulan hari ini ektra mengaji diliburkan karena ada program imunisasi oleh Puskesmas
Seperti biasanya, dia terlihat segar dan berseri. Kami duduk di ruang tamunya yang bersih berkilat.
"Ada apa, Tania?"
"Sebenarnya ...," lirihku, "tempo hari aku melihat suamimu keluar dari hotel bersama wanita. Kelihatan mesra banget. Maaf. Maaf Hilwa ... kamu jangan marah." Aku meremas jari wanita bergaun biru itu. Memberi kekuatan.
Namun ekspresi Hilwa terlihat biasa-biasa saja, dia hanya terkejut sebentar dan kembali tenang.
"Jadi Mas Arkan ketahuan olehmu, Ta?"
Aku mengangguk. Mencoba membaca hati Hilwa. Kenapa dia setenang ini? Apa yang tidak kuketahui?
"Sebenarnya, wanita itu istri kedua Mas Arkan." Kali ini suaranya mulai bergetar.
Aku terkejut. Tidak percaya, selama ini Hilwa tidak pernah bercerita apa-apa tentang perempuan lain. Kukira rumah tangganya baik-baik saja.
"Maaf, Hilwa. Aku tidak bermaksud mengorek lukamu."
Mata lentik itu menerawang. Hilwa menarik napas dan mengembuskanya pelan.
"Awal menikah dulu, aku dan Mas Arkan berjanji untuk saling terbuka. Tidak merahasiakan masalah apapun. Termasuk bila suatu hari tertarik dengan orang lain."
"Kita berjanji akan mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak. Ketika ujian itu benar-benar terjadi pada rumah tanggaku, ternyata rasanya begitu berat. Aku sering sakit-sakitan mengetahui mas Arkan mencintai wanita lain." Air mata menitik, segera dihapus hilwa dengan ujung telunjuk.
"Setelah kucoba mempertahankan Mas Arkan semampuku dan tidak ada perubahan, aku sadar harus mengambil keputusan berat."
"Hilwa ...."
"Nggak apa-apa. Kamu diam dan dengarkan saja ceritaku." Sorot mata Hilwa sudah kembali tenang.
"Kamu tahu orang paling bodoh didunia?" tanyanya. Aku diam, menggeleng pelan.
"Orang yang sedang dimabuk cinta. Mata menjadi buta, telinga seakan tuli dan tidak akan ada satu nasihat pun yang bisa menyadarkanya. Aku akhirnya berdamai dengan diriku sendiri, Ta."
"Mengingat umur sudah hampir kepala empat, keriput sana-sini, tubuh juga banyak yang melorot, aku sadar tak akan menang bersaing dengan gadis muda. Kalau nekad menuntut cerai, hak asuh si kembar pasti jatuh ke tangan ayahnya. Dan aku tak bisa hidup tanpa mereka."
"Dari pada mas Arkan zina, aku ijinkan dia menikah dengan beberapa syarat." Hilwa menggigit bibirnya.
Hatiku deg degan menanti tuturan kisah sahabatku yang 'ajaib' ini.
Tiba-tiba ponsel Hilwa berbunyi. Dia segera mengangkat dan berbicara sebentar sebelum mematikan HP. Wajahnya tegang.
"Maaf, Ta. Aku pergi dulu. Mas Arkan baru saja pingsan. Sekarang dia dalam perjalanan ke rumah sakit. Kapan-kapan saja ceritanya."
Hilwa segera menyiapkan barang-barang yang mungkin dibutuhkan, meninggalkanku yang bengong.
Aku menggaruk kepala berbalut jilbab hitam. Keluar meninggalkan rumah Hilwa dengan kesibukannya. Otakku mencerna cerita Hilwa, tapi masih bingung dengan keputusan gila yang diambilnya.
Mengijinkan suami menikah lagi? Oho! itu tidak ada dikamus. Prinsipku pilih dia atau aku sepaket dengan anak-anak. Meskipun harus berjuang sendiri demi buah hati akan kujalani. Tak sudi berbagi suami dengan perempuan lain.
Ah! Tidak mungkin mas Edo berbuat seperti Arkan. Aku sangat yakin dan percaya pada suami. Insting sebagai istri tak pernah menemukan kejanggalan-kejanggalan.
Kulihat mobil Ertiga Hilwa meluncur di jalan komplek. Aku hanya bisa berdo'a semoga dia baik-baik saja.
Versi Hilwa
Aku memasuki ruang IRD yang berbau obat. Para dokter, pasien dan pengantar sibuk dengan urusan masing-masing. Di ranjang tepat urutan ke dua, terlihat seorang balita menangis ketakutan. Wajahnya pucat dan kurus sekali. Dokter mencoba menusukkan jarum infus. Tangan orang tua gadis kecil itu memegang erat anaknya.
Beberapa teman Mas Arkan berkerumun di ranjang paling ujung. Aku mengenal mereka pada cara Family gathering yang kerap diadakan kantor. Mereka tersenyum canggung, membiarkanku mendekati mas Arkan.
Aku terkejut melihat keadaan suamiku.
Dia pucat sekali. Meskipun terpejam, bola matanya bergerak-gerak dari balik kelopak. Separuh wajahnya terlihat kaku, mulutnya tertarik ke arah kiri.
"Menurut dokter dia terkena serangan stroke ringan." Ryan menerangkan, "jangan khawatir, mbak. Dengan perawatan yang tepat, Pak Arkan akan sembuh total."
Kehempaskan pantat di kursi hitam, tangan mas Arkan terasa dingin. Pasti dia sangat ketakutan. Kutempelkan punggung tangan itu dipipi, mencoba memberi kehangatan. Apa yang dia pikirkan hingga tekanan darahnya tinggi sehingga menyebabkan serangan stroke ringan?
"Tenanglah, Mas. Aku sudah datang. Istrimu ini akan merawatmu sampai sembuh."
"Hm! kalau begitu kami permisi dulu, Bu." Ryan dan teman-temannya berpamitan.
"Iya, Terima kasih atas bantuannya."
Aku meraba wajah mas Arkan yang berubah menyedihkan, "Kasihan sekali kamu, Mas. Apakah ini jawaban dari do'a yang dulu pernah terlontar?"
Mas Arkan perlahan membuka matanya, menatapku penuh penyesalan.
"Maaf, Hilwa," ujarnya tidak jelas dengan mulut miringnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Semua sudah terjadi. Sekarang Mas harus berusaha, berjuang untuk sembuh."
Lelaki berkulit coklat itu menitikkan air mata. Kuhapus dengan ujung jari. Hingga malam menjelang, sosok Ima belum juga nampak. Istri ke dua mas Arkan pasti sudah mendengar kabarnya, aku mengirimkan pesan tadi setelah Salat Asar. Lantas kemana dia sekarang saat suaminya tergeletak tak berdaya?
Ingatanku terlempar ke waktu paling pedih dalam hidup. Saat aku memaksa diri menerima takdir, memberi ijin suami untuk menikah lagi.
Aku menatap tajam kedua pasangan berbeda usia yang duduk di hadapan. Gadis berusia pertengahan dua puluh itu terlihat gelisah. Sesekali ia menyelipkan rambut coklatnya di belakang telinga.
"Aku mengijinkan kalian menikah dengan beberapa syarat." Nada bicaraku seperti hakim yang akan menjatuhkan hukuman di depan pesakitan.
"Besok pagi, kuantar Ima ke rumah sakit untuk cek kesehatan. Aku tidak mau punya madu yang bisa menularkan penyakit."
"Tiga tahun, kuberi waktu selama tiga tahun untuk kalian menjalani pernikahan agama. Setelah itu baru aku akan memberi persetujuan mendaftarkan ke KUA."
"Dari dulu, keuangan dan ATM kupegang. Tiap bulan akan kusedekahkan secukupnya untukmu. Dan tidak boleh protes." kupandang manik hitam gadis montok itu.
"Syarat terakhir, kalian diskusikan waktu yang tepat untuk bertemu. Pokoknya jam delapan malam mas Arkan sudah harus berada di rumah."
"Berat sekali syarat itu, Mbak?" celetuk Ima.
"Berat katamu? Kalau kamu tidak mau sebaiknya menghilang saja dari kehidupan kami."
Mas Arkan mau membantah, tapi pelototan mataku membungkamnya. Ya, aku memang sengaja mengajukan syarat untuk mengetahui sebesar apa rasa cinta gadis itu kepada suamiku. Tak rela jika menyerahkan mas Arkan pada perempuan matre yang hanya akan mengisap hartanya saja.
Seminggu kemudian mereka menikah, si kembar tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi pada Ayah kesayangan mereka. Aku habiskan waktu untuk membaca buku humor, mempelajari joke konyol yang akan kugunakan untuk merebut lagi hati Mas Arkan.
Pengabdianku semakin gila-gilaan. Kubaca habis buku kamasutra. Mempelajari bagian tubuh manusia yang istimewa untuk ditaklukkan. Ketika di rumah, tak akan kuijinkan bayangan Ima berkelebat sedetik pun.
Kehidupan kami berjalan normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Untuk apa bersedih dengan nasip yang tak bisa diubah? Toh sikap dan perhatian Mas Arkan tidak berkurang. Yang ada, dia semakin memanjakanku.
Siang ini Mas Arkan sudah diperbolehkan pulang. Ketika aku kembali ke kamar setelah melunasi administrasi, terlihat Ima sedang berdiri mengawasi suaminya yang berbaring. Wanita itu menatap Mas Arkan dengan aneh.
"Ima," sapaku, "kukira kamu tidak akan datang menjenguk."
Wanita itu berdiri sambil tersenyum canggung. Aku membantu mas Arkan duduk, mulut mencongnya menyunggingkan senyum yang terlihat mengerikan.
"Maaf, beberapa hari aku ada tugas di luar kota. Bagaimana keadaan Mas Arkan?"
"Seperti yang kamu lihat, dia butuh perawatan intensif agar bisa sembuh total. Kamu nggak usah khawatir. Aku yang akan menjaganya."
"Iya, Mbak. Maaf, Aku sedang terburu-buru, banyak pekerjaan di kantor. Besok aku akan ke sini lagi."
"Tidak perlu, nanti siang kami akan pulang."
Wanita bertubuh langsing itu salah tingkah. Setelah meminta maaf sekali lagi, dia pergi meninggalkan kamar bersama suara ketukan sepatu high heels yang dipakainya.
"Kau lihat itu, Mas? Kurasa sebentar lagi dia akan minta cerai." lirihku di telinga Mas Arkan.
"Ayo waktunya melemaskan otot kaki. Kita nikmati udara segar di taman depan, ya." Tanganku membantu Mas Arkan berdiri. Memapahnya berjalan tertatih keluar kamar.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kesabaran dan perjuangan mulai membuahkan hasil. Aku yakin mata hati Mas Arkan akan terbuka dengan kejadian ini. Di sini, ada istrinya yang selalu siap untuk berkorban untuknya.
Badai rumah tangga mulai menyingkir, mendung pekat memudar. Digantikan secercah sinar terang. Aku berjanji akan mempertahankan bahtera ini sampai akhir, hingga maut memisahkan.
-
Ternyata dari cerita Rahasia Seorang Istri diatas , kita bisa tau kalau sebenernya Cinta Yang Tulis itu benar ada.
Hanya saja kadang kita suka lupa diri , ketika kita susah siapa yang selalu bersama kita , meskipun "KATANYA" , kalo cowo itu sah-sah aja punya istri lebih dari satu asalkan bisa berbagi kasih sayang dengan bijak.
Tapi jangankan wanita yang gamau diduain , di Lagu Iwan Fals mengatakan aku lelaki tak mungkin menerima mu bila ternyata kau MENDUA .
Kadang laki-laki egois ya.
Dan ini amanat dari Novie Purwanti sang Penulis ,
Kalo dari gua cuman 1 . " LAKI-LAKI PANTAS DISEBUT LAKI-LAKI KALO SETIA , KALO ENGGA BUKAN !"
Sekian Cerita Unik Rahasia Seorang Istri , semoga pada suka sama ceritanya juga ke kak Novie Purwanti yang sudah berkenan ceritanya saya publikasikan di blog saya ini terimakasih.
Nb : bagi yang punya cerita dan ingin dituliskan diblog ini bisa mengirimkan ceritanya via email di :
Salam, Markas Cetar
Rahasia Seorang Istri
![]() |
| Rahasia Seorang Istri |
Sebelum Cerita Ini gua pubslih dan juga dibaca orang kalian para sahabat Markas Cetar , ada baiknya kalian mengetahui sesuatu.
Bahwa sebenernya cerita ini di ketik oleh seorang Kenalan saya dari dunia maya tepatnya facebook , Saya panggil dia kakak.
Katanya dipanggil kakak biar kelihatan lebih muda , tapi emang masih muda sih.
Kakak ini adalah seorang penulis yang sering banget tulisannya gua baca di sebuah grup komunitas penulis.
Terlebih imajinasinya bagus dan juga kata-katanya yang bener-bener bikin hati selalu bilang , kenapa dulu sekolah gua ga pernah mau belajar Bahasa Indonesia dengan bener , dan akhirnya sekarang nyesel.
Dari jari-jemari Novie Purwanti orang yang baru chat saya sekitar hari selasa tanggal 17 Oktober ini , Sebuah karya tulisa Rahasia Seorang Istri tercipta.
Kata-kata diatas mirip banget kaya iklan kecap di Tipi. haha
Yang jelas si kakak ini , ya itu Novie Purwanti.
Kalo pada suka cerita yang True Story atau Kisah nyata bisa juga baca :
Dan mari kita simak ceritanya,
-
Sebenarnya tidak ada yang istimewa pada sahabat sekaligus tetangga sebelah rumah. Dia gendut, pesek, berbibir tebal dan rambutnya tipis. Namun kekurangan itu tertutupi oleh kulitnya yang putih dan bersih. Untuk ukuran postur wanita, ia lumayan tinggi. Sekitar 170 cm.
Aku duduk di sofa coklat tua. Hilwa membawakan segelas es jeruk yang terlihat segar.
"Usia pernikahan lima, sepuluh dan lima belas tahun sangat rawan. Pada saat-saat itulah, bosan dan hambar dirasakan oleh pasangan." ucapku sambil menyeruput minuman.
"Banyak lelaki yang selingkuh pada masa itu," lanjutku, "bulan depan tepat 15 tahun usia pernikahanku dan Mas Edo. Aku jadi sedikit khawatir."
Hilwa tersenyum. Sahabat sejak SMP itu pembawaannya kalem dan sepertinya dia tidak pernah terlibat masalah dengan suaminya.
Pasangan Hilwa dan Arkan terkenal paling romantis sekomplek, tiap kali keluar rumah mereka selalu bergandengan tangan. Aku sering memergoki kening Hilwa dicium ketika mengantarkan suaminya ke mobil untuk berangkat kerja.
"Nggak usah mikir macam-macam, do'akan saja suamimu biar tidak kecantol wanita lain. Selain itu, kamu juga harus pandai merawat diri dan memuaskan suami." ujarnya panjang lebar.
Hilwa sangat modis, meskipun di dalam rumah, ia selalu memakai baju keluaran terbaru dan wajahnya berseri tersapu make up tipis.
"Apa ada rahasia biar suami lengket kaya lem besi?" tanyaku menyelidik.
"Sini ikut aku." Hilwa menggandeng tanganku ke dalam kamarnya.
Rupanya di ujung kamar ada pintu tembusan. Terlihat taman mungil berumput hijau, di tengahnya terdapat bonsai beraneka ukuran.
Hilwa mengajakku ke lima pot hitam yang terjajar rapi di sisi kiri taman. Tanaman daun sirih menjalar pada sebuah kayu yang menancap di tengah pot.
"Tiap hari aku minum rebusan daun sirih setengah gelas biar wangi dan singset." kerlingnya bangga.
"Dan yang paling penting, setiap hari aku menawarkan diri pada suami. Minat tidak minat pokoknya ditanya. Ehem-ehem itu."
Bibirku berdecak, membandingkan denganku yang ala kadarnya.
"Sorry ya, Ta. Waktunya menjemput si kembar pulang sekolah. Besok mereka akan diikutkan olimpiade matematika tingkat daerah. Nanti kita lanjut lagi. "
Aku mengikuti Hilwa keluar kamar, wanita anggun itu menyambar kunci mobil di depan meja rias.
Padahal tujuanku ke sini untuk memberitahu Hilwa kalau kemarin waktu ikut seminar bisnis di Hotel Yellow, aku melihat Arkan memeluk pinggang ramping perempuan berbaju terbuka keluar dari hotel.
Melihat perjuangan dan cinta Hilwa untuk Arkan, aku jadi tidak tega untuk mengatakannya.
Anak-anak sudah tidur. Seharian mereka belajar di sekolah Full Day. Jam delapan malam suasana rumah sepi. Tinggal aku dan Mas Edo yang asik dengan ponsel masing-masing di dalam kamar.
"Mas, aku mau tanya."
"Apa," jawabnya singkat tanpa mengalihkan tatapan pada layar ponsel. Jemarinya sibuk menekan tombol-tombol yang tak kuketahui gunanya.
"Mas! Serius ini. Gamenya dimatikan dulu!" Kucubit pinggang berlemak itu. Mas Edo berteriak geli.
"Iya-iya. Ada apa, sih."
"Kalau nggak sengaja melihat saudaramu selingkuh, apa yang akan mas lakukan? Diam saja atau mengatakan kepada pasangannya?"
"Saudaraku baik semua, gak ada yang selingkuh."
"Mas Edo!" Mulutku sudah maju.
"Gini lo, Bun. Setiap rumah tangga itu punya ujian hidupnya masing-masing. Dan pastinya, Allah tak akan menguji diluar kesanggupan manusia. Cobaan bisa berupa penyakit, anak-anak, kekayaan, kemiskinan, perselingkuhan dan banyak lagi yang lainnya. Memble bibirku nanti kalau menerangkan banyak-banyak. Dengarkan nasihat ustadz di you tube aja. Banyak itu dijelaskan. "
"Terus apa yang harus dilakukan ketika memergoki orang yang kita kenal berselingkuh?"
"Nggak boleh asal tuduh, lho. Jatuhnya bisa fitnah. Harus di cek lagi beritanya bener apa enggak."
"Udah bener. Seratus persen," sahutku.
"Kalau gitu diberitahu aja pasangannya, tapi harus hati-hati ngomongnya. Jangan menambah-nambahi cerita, katakan apa adanya dengan tujuan mereka bisa evaluasi diri. Bukan menghancurkan hubungan dengan ngomporin nggak jelas."
"Gitu, ya Mas?" Aku manggut-manggut.
Ya, Hilwa harus diberitahu. Besok setelah selesai mengajar ekstra mengaji di sekolah, aku akan memberitahunya.
Tiba-tiba tipsnya Hilwa terngiang jelas di telinga.
"Hm ... hm, Mas Edo." Aku menepuk pundak sosok berisi yang mulai tengkurap sambil membuka ponsel.
"Apa lagi?"
"Emm ... apa Mas mau itu?" Ragu-ragu aku mengucapkan, rasa panas mulai menjalar di wajah. Meskipun sudah menikah selama lima belas tahun tapi jarang sekali aku duluan yang 'minta jatah'. Nah ini malah 'menawarkan diri'
"Itu, main kodok-kodokan. Ah! Gak jadi deh!"
Memalukan! Tanpa menunggu reaksinya, aku mengempaskan tubuh meringkuk menghadap tembok. Kepala kututupi bantal.
"Lho, Bund. Tumben amat. Apa Bunda mau?" goda Mas Edo memeluk pinggangku dari belakang.
"Kodok-kodokan? Hihihi."
"Gak!"
"Ayolah. Asiiik. Bentar, aku siap-siap dulu."
Mas Edo melesat keluar kamar. Biasanya sebelum melakukan 'ritual', dia akan bersih-bersih badan dan menggosok gigi.
Kebiasaan itu bahkan tidak berubah setelah sekian lama. Aku tersenyum, ternyata menawarkan diri tak sesulit yang kubayangkan.
![]() |
| Ilustrasi aja hihi.. |
"Hilwa, aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu janji nggak akan marah dan bisa saja itu salah paham." Aku membuka percakapan.
Setelah memastikan Arkan sudah berangkat kerja, aku segera ke rumah Hilwa. Kebetulan hari ini ektra mengaji diliburkan karena ada program imunisasi oleh Puskesmas
Seperti biasanya, dia terlihat segar dan berseri. Kami duduk di ruang tamunya yang bersih berkilat.
"Ada apa, Tania?"
"Sebenarnya ...," lirihku, "tempo hari aku melihat suamimu keluar dari hotel bersama wanita. Kelihatan mesra banget. Maaf. Maaf Hilwa ... kamu jangan marah." Aku meremas jari wanita bergaun biru itu. Memberi kekuatan.
Namun ekspresi Hilwa terlihat biasa-biasa saja, dia hanya terkejut sebentar dan kembali tenang.
"Jadi Mas Arkan ketahuan olehmu, Ta?"
Aku mengangguk. Mencoba membaca hati Hilwa. Kenapa dia setenang ini? Apa yang tidak kuketahui?
"Sebenarnya, wanita itu istri kedua Mas Arkan." Kali ini suaranya mulai bergetar.
Aku terkejut. Tidak percaya, selama ini Hilwa tidak pernah bercerita apa-apa tentang perempuan lain. Kukira rumah tangganya baik-baik saja.
"Maaf, Hilwa. Aku tidak bermaksud mengorek lukamu."
Mata lentik itu menerawang. Hilwa menarik napas dan mengembuskanya pelan.
"Awal menikah dulu, aku dan Mas Arkan berjanji untuk saling terbuka. Tidak merahasiakan masalah apapun. Termasuk bila suatu hari tertarik dengan orang lain."
"Kita berjanji akan mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak. Ketika ujian itu benar-benar terjadi pada rumah tanggaku, ternyata rasanya begitu berat. Aku sering sakit-sakitan mengetahui mas Arkan mencintai wanita lain." Air mata menitik, segera dihapus hilwa dengan ujung telunjuk.
"Setelah kucoba mempertahankan Mas Arkan semampuku dan tidak ada perubahan, aku sadar harus mengambil keputusan berat."
"Hilwa ...."
"Nggak apa-apa. Kamu diam dan dengarkan saja ceritaku." Sorot mata Hilwa sudah kembali tenang.
"Kamu tahu orang paling bodoh didunia?" tanyanya. Aku diam, menggeleng pelan.
![]() |
| Logika ga dipake yang diutamakan cintanya |
"Orang yang sedang dimabuk cinta. Mata menjadi buta, telinga seakan tuli dan tidak akan ada satu nasihat pun yang bisa menyadarkanya. Aku akhirnya berdamai dengan diriku sendiri, Ta."
"Mengingat umur sudah hampir kepala empat, keriput sana-sini, tubuh juga banyak yang melorot, aku sadar tak akan menang bersaing dengan gadis muda. Kalau nekad menuntut cerai, hak asuh si kembar pasti jatuh ke tangan ayahnya. Dan aku tak bisa hidup tanpa mereka."
"Dari pada mas Arkan zina, aku ijinkan dia menikah dengan beberapa syarat." Hilwa menggigit bibirnya.
Hatiku deg degan menanti tuturan kisah sahabatku yang 'ajaib' ini.
Tiba-tiba ponsel Hilwa berbunyi. Dia segera mengangkat dan berbicara sebentar sebelum mematikan HP. Wajahnya tegang.
"Maaf, Ta. Aku pergi dulu. Mas Arkan baru saja pingsan. Sekarang dia dalam perjalanan ke rumah sakit. Kapan-kapan saja ceritanya."
Hilwa segera menyiapkan barang-barang yang mungkin dibutuhkan, meninggalkanku yang bengong.
Aku menggaruk kepala berbalut jilbab hitam. Keluar meninggalkan rumah Hilwa dengan kesibukannya. Otakku mencerna cerita Hilwa, tapi masih bingung dengan keputusan gila yang diambilnya.
Mengijinkan suami menikah lagi? Oho! itu tidak ada dikamus. Prinsipku pilih dia atau aku sepaket dengan anak-anak. Meskipun harus berjuang sendiri demi buah hati akan kujalani. Tak sudi berbagi suami dengan perempuan lain.
Ah! Tidak mungkin mas Edo berbuat seperti Arkan. Aku sangat yakin dan percaya pada suami. Insting sebagai istri tak pernah menemukan kejanggalan-kejanggalan.
Kulihat mobil Ertiga Hilwa meluncur di jalan komplek. Aku hanya bisa berdo'a semoga dia baik-baik saja.
Versi Hilwa
Aku memasuki ruang IRD yang berbau obat. Para dokter, pasien dan pengantar sibuk dengan urusan masing-masing. Di ranjang tepat urutan ke dua, terlihat seorang balita menangis ketakutan. Wajahnya pucat dan kurus sekali. Dokter mencoba menusukkan jarum infus. Tangan orang tua gadis kecil itu memegang erat anaknya.
Beberapa teman Mas Arkan berkerumun di ranjang paling ujung. Aku mengenal mereka pada cara Family gathering yang kerap diadakan kantor. Mereka tersenyum canggung, membiarkanku mendekati mas Arkan.
Aku terkejut melihat keadaan suamiku.
Dia pucat sekali. Meskipun terpejam, bola matanya bergerak-gerak dari balik kelopak. Separuh wajahnya terlihat kaku, mulutnya tertarik ke arah kiri.
"Menurut dokter dia terkena serangan stroke ringan." Ryan menerangkan, "jangan khawatir, mbak. Dengan perawatan yang tepat, Pak Arkan akan sembuh total."
Kehempaskan pantat di kursi hitam, tangan mas Arkan terasa dingin. Pasti dia sangat ketakutan. Kutempelkan punggung tangan itu dipipi, mencoba memberi kehangatan. Apa yang dia pikirkan hingga tekanan darahnya tinggi sehingga menyebabkan serangan stroke ringan?
"Tenanglah, Mas. Aku sudah datang. Istrimu ini akan merawatmu sampai sembuh."
"Hm! kalau begitu kami permisi dulu, Bu." Ryan dan teman-temannya berpamitan.
"Iya, Terima kasih atas bantuannya."
Aku meraba wajah mas Arkan yang berubah menyedihkan, "Kasihan sekali kamu, Mas. Apakah ini jawaban dari do'a yang dulu pernah terlontar?"
Mas Arkan perlahan membuka matanya, menatapku penuh penyesalan.
"Maaf, Hilwa," ujarnya tidak jelas dengan mulut miringnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Semua sudah terjadi. Sekarang Mas harus berusaha, berjuang untuk sembuh."
Lelaki berkulit coklat itu menitikkan air mata. Kuhapus dengan ujung jari. Hingga malam menjelang, sosok Ima belum juga nampak. Istri ke dua mas Arkan pasti sudah mendengar kabarnya, aku mengirimkan pesan tadi setelah Salat Asar. Lantas kemana dia sekarang saat suaminya tergeletak tak berdaya?
Ingatanku terlempar ke waktu paling pedih dalam hidup. Saat aku memaksa diri menerima takdir, memberi ijin suami untuk menikah lagi.
Aku menatap tajam kedua pasangan berbeda usia yang duduk di hadapan. Gadis berusia pertengahan dua puluh itu terlihat gelisah. Sesekali ia menyelipkan rambut coklatnya di belakang telinga.
"Aku mengijinkan kalian menikah dengan beberapa syarat." Nada bicaraku seperti hakim yang akan menjatuhkan hukuman di depan pesakitan.
"Besok pagi, kuantar Ima ke rumah sakit untuk cek kesehatan. Aku tidak mau punya madu yang bisa menularkan penyakit."
"Tiga tahun, kuberi waktu selama tiga tahun untuk kalian menjalani pernikahan agama. Setelah itu baru aku akan memberi persetujuan mendaftarkan ke KUA."
"Dari dulu, keuangan dan ATM kupegang. Tiap bulan akan kusedekahkan secukupnya untukmu. Dan tidak boleh protes." kupandang manik hitam gadis montok itu.
"Syarat terakhir, kalian diskusikan waktu yang tepat untuk bertemu. Pokoknya jam delapan malam mas Arkan sudah harus berada di rumah."
"Berat sekali syarat itu, Mbak?" celetuk Ima.
"Berat katamu? Kalau kamu tidak mau sebaiknya menghilang saja dari kehidupan kami."
Mas Arkan mau membantah, tapi pelototan mataku membungkamnya. Ya, aku memang sengaja mengajukan syarat untuk mengetahui sebesar apa rasa cinta gadis itu kepada suamiku. Tak rela jika menyerahkan mas Arkan pada perempuan matre yang hanya akan mengisap hartanya saja.
Seminggu kemudian mereka menikah, si kembar tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi pada Ayah kesayangan mereka. Aku habiskan waktu untuk membaca buku humor, mempelajari joke konyol yang akan kugunakan untuk merebut lagi hati Mas Arkan.
Pengabdianku semakin gila-gilaan. Kubaca habis buku kamasutra. Mempelajari bagian tubuh manusia yang istimewa untuk ditaklukkan. Ketika di rumah, tak akan kuijinkan bayangan Ima berkelebat sedetik pun.
Kehidupan kami berjalan normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Untuk apa bersedih dengan nasip yang tak bisa diubah? Toh sikap dan perhatian Mas Arkan tidak berkurang. Yang ada, dia semakin memanjakanku.
Siang ini Mas Arkan sudah diperbolehkan pulang. Ketika aku kembali ke kamar setelah melunasi administrasi, terlihat Ima sedang berdiri mengawasi suaminya yang berbaring. Wanita itu menatap Mas Arkan dengan aneh.
"Ima," sapaku, "kukira kamu tidak akan datang menjenguk."
Wanita itu berdiri sambil tersenyum canggung. Aku membantu mas Arkan duduk, mulut mencongnya menyunggingkan senyum yang terlihat mengerikan.
"Maaf, beberapa hari aku ada tugas di luar kota. Bagaimana keadaan Mas Arkan?"
"Seperti yang kamu lihat, dia butuh perawatan intensif agar bisa sembuh total. Kamu nggak usah khawatir. Aku yang akan menjaganya."
"Iya, Mbak. Maaf, Aku sedang terburu-buru, banyak pekerjaan di kantor. Besok aku akan ke sini lagi."
"Tidak perlu, nanti siang kami akan pulang."
Wanita bertubuh langsing itu salah tingkah. Setelah meminta maaf sekali lagi, dia pergi meninggalkan kamar bersama suara ketukan sepatu high heels yang dipakainya.
"Kau lihat itu, Mas? Kurasa sebentar lagi dia akan minta cerai." lirihku di telinga Mas Arkan.
"Ayo waktunya melemaskan otot kaki. Kita nikmati udara segar di taman depan, ya." Tanganku membantu Mas Arkan berdiri. Memapahnya berjalan tertatih keluar kamar.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kesabaran dan perjuangan mulai membuahkan hasil. Aku yakin mata hati Mas Arkan akan terbuka dengan kejadian ini. Di sini, ada istrinya yang selalu siap untuk berkorban untuknya.
Badai rumah tangga mulai menyingkir, mendung pekat memudar. Digantikan secercah sinar terang. Aku berjanji akan mempertahankan bahtera ini sampai akhir, hingga maut memisahkan.
-
Ternyata dari cerita Rahasia Seorang Istri diatas , kita bisa tau kalau sebenernya Cinta Yang Tulis itu benar ada.
Hanya saja kadang kita suka lupa diri , ketika kita susah siapa yang selalu bersama kita , meskipun "KATANYA" , kalo cowo itu sah-sah aja punya istri lebih dari satu asalkan bisa berbagi kasih sayang dengan bijak.
Tapi jangankan wanita yang gamau diduain , di Lagu Iwan Fals mengatakan aku lelaki tak mungkin menerima mu bila ternyata kau MENDUA .
Kadang laki-laki egois ya.
Dan ini amanat dari Novie Purwanti sang Penulis ,
- Kesabaran selalu berbuah manis dengan caranya sendiri. Meskipun itu harus melalui banyak jalan berliku tetapi pada akhirnya akan tetap menang.
- Jangan remehkan kekuatan doa, meskipun sedikit yang dimohonkan. Tetapi jika doa terus menerus diucap maka itu akan menjadi kekuatan dahsyat yang bisa saja mengubah takdir.
Kalo dari gua cuman 1 . " LAKI-LAKI PANTAS DISEBUT LAKI-LAKI KALO SETIA , KALO ENGGA BUKAN !"
Baca juga Artikel Unik lainnya :
Sekian Cerita Unik Rahasia Seorang Istri , semoga pada suka sama ceritanya juga ke kak Novie Purwanti yang sudah berkenan ceritanya saya publikasikan di blog saya ini terimakasih.
Nb : bagi yang punya cerita dan ingin dituliskan diblog ini bisa mengirimkan ceritanya via email di :
- kelvinjunior2500997@gmail.com ( VIA EMAIL )
- FACEBOOK ( VIA MESSENGER )
- Tanda ( - ) Untuk awal dari cerita yang dibagikan
- Tanda ( - ) Untuk akhir dari cerita yang dibagikan
Salam, Markas Cetar






Post a Comment