Kuat Hati Tangguh Diri
Markas Cetar - sebuah karangan Kuat Hati Tangguh Diri dicoba dibagikan dalam blog ini semoga para pembaca menyukainya.
Kuat Hati Tangguh Diri
Apa yang kau ketahui soal sebuah kepercayaan? Sekedar angin berlalu atau sebuah kalimat penenang untuk sesaat? Sudahlah kau tidak akan mengerti. Kepercayaan didapat untuk orang berkelas.
Meskipun kadang kepercayaan kita dibayar murah oleh seseorang, atau digadaikan tanpa melihat sebuah perjuangan. Raga tak'an terluka.
Tau mengapa aku tak pernah curiga? Aku Menaruh Kepercayaan Padamu! Ingat baik KEPERCAYAAN!
Sakit bukan karena kau memilih cinta barumu, tapi karena itu terlihat sangat rapi dan tersusun baik. Merencanakan sebuah kudeta, benar kudeta pada janji setia.
Tak ada yang akan mengerti sakitnya, bahkan apa yang harus dilakukan oleh orang yang merasakan sakit tersebut? Tak ada jawabnya.
Hati mana yang tak perih jika sudah diberi luka justru diberi cuka? Tak semua manusia juga bisa untuk Kuat Hati.
Atau sekuat apa hati yang terluka lalu disembuhkan, dan diberikan luka yang sama juga ditempat yang sama? Bukankah rasanya akan berlipat ganda?. Jika Fisik, obat dan waktu. Hati? Itu waktu dan tiada yang mengetahuinya.
Malam setelah penyembuh luka terlintas, ada yang membisikan hati untuk sekiranya membaca buku lama.
Otak dan hati perang dingin. Tak berkontak tapi saling menolak.
"Tulis namanya dan liat apa yang dia lakukan"
"Dasar lemah! Sudahlah dia tak mengingatmu lagi lupakan, dan jangan dengarkan otak bodo itu"
"Ingat mengetahui bukan berarti menginginkan, hati itu terlalu lemah jangan dengarkan kau harus tangguh diri !"
"Bagaimana? bertangguh diri? Kalau kenyataan kau tidak bisa melakukannya, sudah lupakan perkataan otak bodoh itu."
Lamunanku hilang. Hati ini benar, siapa yang tak ingin hebat dalam segala hal?
Siapa yang ingin jatuh dan sulit untuk bangkit? Tidak ada bukan?
Hanya saja kita lebih baik menghindar dan pergi sejauh-jauh mungkin. Agar masalah selesai tanpa sebuah jawaban.
Ya benar, tanpa jawaban yang jelas lebih baik. Meski terkadang jawaban tersebut memperbaiki suasana percayalah hati yang sakit sulit diobati.
Otak juga tidak salah, seharusnya aku tangguh diri.
Tangguh melewati masa tanpa bayangan dimasa lalu, lebih tangguh lagi tanpa harus menyimpan sebuah rasa yang disebut dendam. Terlebih tangguh menjalani kenyatan yang ada.
Namun disetiap pertemuan baru aku tau, setiap orang memiliki penawar dan racun. Untuk itu dia yang memilih memberikan apa pada orang yang meminta bantuannya.
Tuhan punya jalannya masing-masing, cara mempertemukan serta cara memisahkan. Memberikan alasan sebuah pertemuan juga alasan ditinggalkan.
Ketika kau dipertemukan oleh semesta, jangan terlalu antusias untuk menyambutnya, karena aku yakin kau tak akan seantusias itu ketika kau ditinggalkan.
Saat ini dalam udara malam yang dingin, aku menjadi satu-satunya sosok yang berdiri didepan kerumunan orang dengan hati yang sepi.
Ditemani si kecil putih yang berisikan tembakau, pastinya dia setia kemanapun aku pergi meski sementara, itu berarti.
Tersenyum melihat alam yang mulai mengikuti suasana hati.
Mencoba menjadikan iklas rasa ini seperti air yang jatuh dari langit, tetes demi tetes hingga akhirnya habis.
Kemudian aku kembali ke kamarku, dan mencoba menenangkan si otak yang sedari tadi mengerutu dengan rasa ingin taunya.
Memberikan pengertian untuk si hati dengan lembut, yang sedari tadi tidak mengerti mengapa otak tidak pernah sejalan dengan pikirannya. Kuberikan dia perhatian yang lebih karena ia lebih lemah.
Tak pernah ku dapati saat seperti ini, pertengkaran dua organ tubuh yang harusnya dapat ku kendalikan.
"Bukankah telah hadir penulis baru dalam hidupmu kawan? Kupikir dia lebih baik dari pada yang membuat aku terluka seperti ini."
"Sudahlah kawan, jangan dengarkan hati itu. Dia tidak memiliki otak sepertiku."
"Hey ! Aku cuma bertanya kepadanya. Lebih baik kau yang diam"
"Semua ada saatnya kawan, bukan kah mereka sudah mengigatkanmu berkali-kali? keluarga tanpa ikatan darah yang kau miliki. Tidak kah kau merasa malu juga pada seorang ibu yang memberimu semangat untuk mengejar citamu? Sudah, sepertinya kau butuh istrirahat tidurlah."
"Bukankah kau sudah mengertahui juga yang sebenarnya dari orang tuanya? Ibunya baik dan begitu memperhatikanmu. Kali ini aku setuju dengan si otak."
"Penulis itu cepat atau lambat akan hadir, dan harapanku ia tak pernah lagi membuat si lemah itu terluka. Karena ketika hati terluka akupun ikut terluka."
Beginilah malam ini ku lalui, bahkan setiap hari mereka sering bertengkar ahkir-akhir ini.
Tapi tak mengapa setidaknya ada yang dapat membuatku merasa lebih ramai, dan tidak termenung atas apa yang terjadi.
Penulis baru yang kutunggu belum juga membuka hatinya, atau memang dia dalam perjalanan?
Biarlah, sekarang lebih baik membenahi diri.
Saat mencintai, alangkah baik memilih. Dia yang menulis kisah sampai tanah menyatu dengan raga. Bukan dia yang datang lalu pergi meninggalkan luka.
Dan alangkah baiknya aku tidur, karena saat ini emosi ku tak terkendali. kata seseorang kepadaku.
Kelvin Junior,
19-07-2018
Baca juga Curhatan :
Kuat Hati Tangguh Diri

Kuat Hati Tangguh Diri
Apa yang kau ketahui soal sebuah kepercayaan? Sekedar angin berlalu atau sebuah kalimat penenang untuk sesaat? Sudahlah kau tidak akan mengerti. Kepercayaan didapat untuk orang berkelas.
Meskipun kadang kepercayaan kita dibayar murah oleh seseorang, atau digadaikan tanpa melihat sebuah perjuangan. Raga tak'an terluka.
Tau mengapa aku tak pernah curiga? Aku Menaruh Kepercayaan Padamu! Ingat baik KEPERCAYAAN!
Sakit bukan karena kau memilih cinta barumu, tapi karena itu terlihat sangat rapi dan tersusun baik. Merencanakan sebuah kudeta, benar kudeta pada janji setia.
Tak ada yang akan mengerti sakitnya, bahkan apa yang harus dilakukan oleh orang yang merasakan sakit tersebut? Tak ada jawabnya.
Hati mana yang tak perih jika sudah diberi luka justru diberi cuka? Tak semua manusia juga bisa untuk Kuat Hati.
Atau sekuat apa hati yang terluka lalu disembuhkan, dan diberikan luka yang sama juga ditempat yang sama? Bukankah rasanya akan berlipat ganda?. Jika Fisik, obat dan waktu. Hati? Itu waktu dan tiada yang mengetahuinya.
Malam setelah penyembuh luka terlintas, ada yang membisikan hati untuk sekiranya membaca buku lama.
Otak dan hati perang dingin. Tak berkontak tapi saling menolak.
"Tulis namanya dan liat apa yang dia lakukan"
"Dasar lemah! Sudahlah dia tak mengingatmu lagi lupakan, dan jangan dengarkan otak bodo itu"
"Ingat mengetahui bukan berarti menginginkan, hati itu terlalu lemah jangan dengarkan kau harus tangguh diri !"
"Bagaimana? bertangguh diri? Kalau kenyataan kau tidak bisa melakukannya, sudah lupakan perkataan otak bodoh itu."
Lamunanku hilang. Hati ini benar, siapa yang tak ingin hebat dalam segala hal?
Siapa yang ingin jatuh dan sulit untuk bangkit? Tidak ada bukan?
Hanya saja kita lebih baik menghindar dan pergi sejauh-jauh mungkin. Agar masalah selesai tanpa sebuah jawaban.
Ya benar, tanpa jawaban yang jelas lebih baik. Meski terkadang jawaban tersebut memperbaiki suasana percayalah hati yang sakit sulit diobati.
Otak juga tidak salah, seharusnya aku tangguh diri.
Tangguh melewati masa tanpa bayangan dimasa lalu, lebih tangguh lagi tanpa harus menyimpan sebuah rasa yang disebut dendam. Terlebih tangguh menjalani kenyatan yang ada.
Namun disetiap pertemuan baru aku tau, setiap orang memiliki penawar dan racun. Untuk itu dia yang memilih memberikan apa pada orang yang meminta bantuannya.
Tuhan punya jalannya masing-masing, cara mempertemukan serta cara memisahkan. Memberikan alasan sebuah pertemuan juga alasan ditinggalkan.
Ketika kau dipertemukan oleh semesta, jangan terlalu antusias untuk menyambutnya, karena aku yakin kau tak akan seantusias itu ketika kau ditinggalkan.
Saat ini dalam udara malam yang dingin, aku menjadi satu-satunya sosok yang berdiri didepan kerumunan orang dengan hati yang sepi.
Ditemani si kecil putih yang berisikan tembakau, pastinya dia setia kemanapun aku pergi meski sementara, itu berarti.
Tersenyum melihat alam yang mulai mengikuti suasana hati.
Mencoba menjadikan iklas rasa ini seperti air yang jatuh dari langit, tetes demi tetes hingga akhirnya habis.
Kemudian aku kembali ke kamarku, dan mencoba menenangkan si otak yang sedari tadi mengerutu dengan rasa ingin taunya.
Memberikan pengertian untuk si hati dengan lembut, yang sedari tadi tidak mengerti mengapa otak tidak pernah sejalan dengan pikirannya. Kuberikan dia perhatian yang lebih karena ia lebih lemah.
Tak pernah ku dapati saat seperti ini, pertengkaran dua organ tubuh yang harusnya dapat ku kendalikan.
"Bukankah telah hadir penulis baru dalam hidupmu kawan? Kupikir dia lebih baik dari pada yang membuat aku terluka seperti ini."
"Sudahlah kawan, jangan dengarkan hati itu. Dia tidak memiliki otak sepertiku."
"Hey ! Aku cuma bertanya kepadanya. Lebih baik kau yang diam"
"Semua ada saatnya kawan, bukan kah mereka sudah mengigatkanmu berkali-kali? keluarga tanpa ikatan darah yang kau miliki. Tidak kah kau merasa malu juga pada seorang ibu yang memberimu semangat untuk mengejar citamu? Sudah, sepertinya kau butuh istrirahat tidurlah."
"Bukankah kau sudah mengertahui juga yang sebenarnya dari orang tuanya? Ibunya baik dan begitu memperhatikanmu. Kali ini aku setuju dengan si otak."
"Penulis itu cepat atau lambat akan hadir, dan harapanku ia tak pernah lagi membuat si lemah itu terluka. Karena ketika hati terluka akupun ikut terluka."
Beginilah malam ini ku lalui, bahkan setiap hari mereka sering bertengkar ahkir-akhir ini.
Tapi tak mengapa setidaknya ada yang dapat membuatku merasa lebih ramai, dan tidak termenung atas apa yang terjadi.
Penulis baru yang kutunggu belum juga membuka hatinya, atau memang dia dalam perjalanan?
Biarlah, sekarang lebih baik membenahi diri.
Saat mencintai, alangkah baik memilih. Dia yang menulis kisah sampai tanah menyatu dengan raga. Bukan dia yang datang lalu pergi meninggalkan luka.
Dan alangkah baiknya aku tidur, karena saat ini emosi ku tak terkendali. kata seseorang kepadaku.
"Tidurlah ketika emosimu tak terkendali, karena ketika engkau bangun percayalah emosimu sudah membaik. Setelah itu baru putuskan langkah apa yang akan kau ambil. Membuat keputusan ketika marah itu tidak benar."
Kelvin Junior,
19-07-2018
Baca juga Curhatan :


Post a Comment