Penyembuh Luka
Markas Cetar - membagikan sebuah tulisan mungkin bergenre puisi dengan judul Penyembuh Luka semoga para pembaca juga suka.
Penyembuh Luka
Semenjak luka ini tergores, aku sulit mempercayai apa itu cinta? Lebih teliti memilah penulis baru yang hendak menuliskan kisah bersamaku.
Karena pernah kau cintai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar mencintaiku
Karenamu aku dingin hati, ketika panas hadir itu bukan cinta melainkan penyesalan, mengapa aku setia pada seorang pengkhianat?
Terdengar seperti aku mengutukmu, benar aku mengutukmu saat ini. Saat kau tinggalkan aku dalam lautan luka, saat aku terjatuh dalam semua problematika kehidupan. Saat dimana kau memupuk harapan, lalu kau datang dan merusak segalanya.
Taukah aku begitu rapuh? Bangkit kata yang mudah tapi sulit dilakukan.
Amarah selalu datang seiring hadirnya bayangmu dalam benak ini. Mengapa aku pergi ? Mengapa keadaan memberikan jarak? Mengapa aku bukan lahir dari keluarga serba ada?
Berlarut aku dalam kesedihan tak berujung, Tuhan menjadi kambing hitam atas segalanya.
Hingga satu malam aku memejamkan mataku dan meminta kepada Tuhan berikan aku sebuah petunjuk atas jawaban semua pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Berselang beberapa hari aku menemukan sesuatu yang mungkin kau sadari, tapi aku sudah tak berarti bagimu dan terluka atau tidak bukan menjadi persoalan.
Bukankah kau tau aku bukan orang yang bodoh? Ya setidaknya langkah catur kudamu terbaca dengan jelas. Terimakasih aku jadi mengerti arti pengkhianatan.
Jelas kenyataan semakin dekat, semakin terkuak, juga hati semakin tersayat.
Ada masanya, yang setia kalah dengan yang selalu ada.
Ada masanya pula , kita memang harus menguatkan diri sendiri melebihi batasnya.
Penyesalan terbesar saat ini bukan karenamu, tapi karena aku pernah mengutuk semesta, isinya bahkan penciptanya.
Untuk ibu seseorang yang pernah menjadi tempat aku meluapkan amarah, maafkan anakmu yang tidak tahu diri.
Mungkin kau benar, dua orang yang saling mencintai adalah dua orang yang saling berjuang untuk kebahagiaan bersama, bukan yang hanya menunggu dan menuntut dibagiakan.
Maafkan aku yang sempat mengutuk mengapa aku dilahirkan. Aku tau kau orang yang pertama terluka ketika anak semata wayangmu ini tersakiti. Maaf ibu.
Jika ada yang mengatakan bahwa jika seorang laki-laki melukai wanita, wanita yang kau sakiti itu adalah seorang anak perempuan yang dibahagiakan mati-matian oleh ayahnya
Ini berlaku untukmu.
Aku yang kau sakiti adalah seorang anak laki-laki yang diajarkan untuk tidak boleh menangis seberat apapun bebanku dan dianjurkan selalu kuat dalam keadaan seperti apapun oleh ibuku.
Namun aku menangis dan mengatakan aku tidak kuat.
Jangan berpikir aku mendramatisir ini semua agar menarik perhatianmu, kehadiranmu sudah tidak kuinginkan.
Lalu kenapa aku masih menolak lupa? Alasan aku sulit melupa. Aku bukan penghianat.
Suatu saat aku akan melihatmu dengan tatapan yang sama, tapi tidak dengan perasaan yang sama.
4 tahun yang lalu dimulai, Perkenalan? Pendekatan? Harapan Itu Awal. 4 bulan belakangan ini selesai. Restu? Hianat? Kenyataan Ini Akhir.
Kelvin Junior,
10-07-2018
Baca juga Curhatan :
Penyembuh Luka

Penyembuh Luka
Semenjak luka ini tergores, aku sulit mempercayai apa itu cinta? Lebih teliti memilah penulis baru yang hendak menuliskan kisah bersamaku.
Karena pernah kau cintai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar mencintaiku
Karenamu aku dingin hati, ketika panas hadir itu bukan cinta melainkan penyesalan, mengapa aku setia pada seorang pengkhianat?
Terdengar seperti aku mengutukmu, benar aku mengutukmu saat ini. Saat kau tinggalkan aku dalam lautan luka, saat aku terjatuh dalam semua problematika kehidupan. Saat dimana kau memupuk harapan, lalu kau datang dan merusak segalanya.
Taukah aku begitu rapuh? Bangkit kata yang mudah tapi sulit dilakukan.
Amarah selalu datang seiring hadirnya bayangmu dalam benak ini. Mengapa aku pergi ? Mengapa keadaan memberikan jarak? Mengapa aku bukan lahir dari keluarga serba ada?
Berlarut aku dalam kesedihan tak berujung, Tuhan menjadi kambing hitam atas segalanya.
Hingga satu malam aku memejamkan mataku dan meminta kepada Tuhan berikan aku sebuah petunjuk atas jawaban semua pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Berselang beberapa hari aku menemukan sesuatu yang mungkin kau sadari, tapi aku sudah tak berarti bagimu dan terluka atau tidak bukan menjadi persoalan.
Bukankah kau tau aku bukan orang yang bodoh? Ya setidaknya langkah catur kudamu terbaca dengan jelas. Terimakasih aku jadi mengerti arti pengkhianatan.
Jelas kenyataan semakin dekat, semakin terkuak, juga hati semakin tersayat.
Ada masanya, yang setia kalah dengan yang selalu ada.
Ada masanya pula , kita memang harus menguatkan diri sendiri melebihi batasnya.
Penyesalan terbesar saat ini bukan karenamu, tapi karena aku pernah mengutuk semesta, isinya bahkan penciptanya.
Untuk ibu seseorang yang pernah menjadi tempat aku meluapkan amarah, maafkan anakmu yang tidak tahu diri.
Mungkin kau benar, dua orang yang saling mencintai adalah dua orang yang saling berjuang untuk kebahagiaan bersama, bukan yang hanya menunggu dan menuntut dibagiakan.
Maafkan aku yang sempat mengutuk mengapa aku dilahirkan. Aku tau kau orang yang pertama terluka ketika anak semata wayangmu ini tersakiti. Maaf ibu.
Jika ada yang mengatakan bahwa jika seorang laki-laki melukai wanita, wanita yang kau sakiti itu adalah seorang anak perempuan yang dibahagiakan mati-matian oleh ayahnya
Ini berlaku untukmu.
Aku yang kau sakiti adalah seorang anak laki-laki yang diajarkan untuk tidak boleh menangis seberat apapun bebanku dan dianjurkan selalu kuat dalam keadaan seperti apapun oleh ibuku.
Namun aku menangis dan mengatakan aku tidak kuat.
Jangan berpikir aku mendramatisir ini semua agar menarik perhatianmu, kehadiranmu sudah tidak kuinginkan.
Lalu kenapa aku masih menolak lupa? Alasan aku sulit melupa. Aku bukan penghianat.
Suatu saat aku akan melihatmu dengan tatapan yang sama, tapi tidak dengan perasaan yang sama.
4 tahun yang lalu dimulai, Perkenalan? Pendekatan? Harapan Itu Awal. 4 bulan belakangan ini selesai. Restu? Hianat? Kenyataan Ini Akhir.
Kelvin Junior,
10-07-2018
Baca juga Curhatan :


Post a Comment