Ads

Keluarga Tanpa Ikatan Darah

Markas Cetar - teruntuk Keluarga Tanpa Ikatan Darah yang menemani sedari dulu terimakasih atas bantuannya mungkin sulit diungkap namun semoga kalian membacannya disini.

Keluarga Tanpa Ikatan Darah
Keluarga Tanpa Ikatan Darah
Keluarga Tanpa Ikatan Darah

Saat tersulit dalam hidup ada saja cara semesta menghibur, melalui caranya yang fantastis. Kau dan kau hadir satu persatu mencoba menopang. Sahabat.

Kali ini aku tidak membahas kesedihan. Takutnya justru tak berujung dan membuat suasana hati menjadi semakin sulit di tata, meskipun begitu sahabat. Aku tau kalian mengerti perasaanku sesungguhnya.

Satu-persatu kalian hadir, silih berganti. Seperti direncakan. Menghibur dan mencoba memberikan berbagai asumsi yang terbesit dalam pikiran masing-masing, masukan kadang disertai hinaan itu biasa. Aku mengerti kalian begitu memperhatikan keadaan hatiku.

"Aku mengerti engkau dan segala bentuk kegelisahamu kawan, biarlah yang sudah menjadi sebuah pelajaran. Setidaknya ini kenyataan yang sekarang."

Mudah bagimu mengatakan hal tersebut kawan, namun akupun mengerti kau terluka bukan? Saat ada orang yang melukai sahabatmu.

Bukankan memang seperti itu seorang sahabat? Dia yang menghina didepan dengan amat sakit, namun tak ingin orang lain melakukan hal sama.

Nampaknya banyak hal yang masih kau ingat, cara menenangkan hatiku saat dibuat hancur oleh orang yang kucintai, mecoba menghibur dengan caramu.

Dia juga tempat mengadu terbaik, meskipun sebenarnya harusnya kita mengadukan segala hal kepada Tuhan. Setidaknya kali ini komunikasi terjadi 2 arah.

Alangkah indahnya jika hidupmu dipenuhi sahabat-sahabat yang tulus dan tidak bermuka dua. Karena dalam agama dikatakan, jika hidupmu memiliki sahabat sejati hendaknya kau seperti memiliki harta yang tidak ternilai harganya.

Banyak hal tak dapat kukatakan saat ini, tapi aku percaya kau mengerti segalanya. Meskipun kau mengatakan bukan orang yang pintar dalam memberikan masukan, tapi apa yang kau katakan itu benar kawan.

Seleksi alam, adalah sebuah hal yang mutlak.

"Hidup ini sendiri, tidak ada orang yang bisa benar-benar menemanimu. Terimalah kenyataan tersebut dan belajarlah menghargai"

Aku tau itu caramu memberi sebuah penanda kekuatan. Untuk aku yang patah harapan, Darimu seorang yang ku panggil sahabat.

Nampaknya ada juga sahabat yang melukiskan emosinya melalui ucapakan, yang sesungguhnya jutru memberikan beban baru.

"Sadarlah kau siapa? Dia siapa? Berharaplah secukupnya, Bodoh! Bermimpilah setinggi langit tapi jangan lupa untuk tetap menginjak tanah. Agar kau tak lupa dari mana asalmu!"

Melukai hati, menyinggung sukma, menyadarkan diri. ya itu harus ku akui.

"Karena sesungguhnya tidak ada kata sahabat, semua itu omong kosong. Wanita itu melukai keluargaku."

Semakin panas, seperti ada yang terbakar dan penglihatan mulai kabur, berkaca hingga harus disibak menggunakan tangan.

"Pada akhirnya waktu yang akan sembuhkan luka dihatimu, biarkan senja ini mengakhiri segala duka laramu."

Sahabat, maaf sekarang kita menyebutnya keluarga. Kau adalah ikatan tanpa dasar, tanpa komitmen hanya saling menjaga juga saling melindungi. Bukan dari rahim yang sama namun memiliki firasat batin yang sama.

Terimakasih berkatmu aku terisi oleh kekosongan yang saat ini datang dan menghantui, kekuatan yang diberikan melebihi batas. Lantas akupun harus bangkit, karena itu yang diharapkan dari mereka keluarga tanpa ikatan darah.

Kutepuk pundakmu kawan, agar kau tau disini ada tempat untuk berbagi beban.


Kelvin Junior,
13-07-2018

Baca juga Curhatan :

No comments

Powered by Blogger.