Penulis Lembaran Hidupku
Markas Cetar - Penulis Lembaran Hidupku menjadi sebuah motivasi bagi seorang penulis baru yang bergabung di blog ini.
Penulis Lembaran Hidupku
Semua ini takdir, dan pertemuanku denganmu sepertinya jodoh. Lalu dia datang.
Selepas hilang sekeping hati yang kujaga layaknya intan, menghadirkan sebuah lubang dihati. Perih tapi entah bagian mana yang musti diberi obat.
Tidur terbayang, makan teringat.
Setiap hari aku menunggu kabar dari mu, menunggu kamu upload keseharianmu agar setidaknya aku tidak tertinggal dan mengetahui harimu. Meskipun sedikit itu lebih baik dari tidak mengetahui apapun.
Sosial media mungkin itu satu-satunya penghubung kita.
Tapi semakin ku mencari tau tentang mu, kabarmu, siapa alasanmu tertawa, kepada siapa senyum itu kau beri. Itu semakin melukaiku.
Mungkin saat ini kau sudah mulai menghapus bayang diriku, seharusnya akupun begitu tapi maaf cinta memang tak mengenal logika.
Tak ada orang yang baik-baik saja ketika ditinggal, itu benar tapi tak berlaku untukmu. Setidaknya itulah yang aku ketahui.
Meskipun begitu dalam hidup kita harus bergerak. Jika tak bisa setidaknya berpindahlah.
Kini yang kubutuhkan sebuah sandaran, aku lelah. Berpura-pura untuk kuat.
Hilangnya rasa harapan, percaya diri, mungkin juga selera mencintai.
Hati yang kuat adalah hati yang iklas, tidak mendendam dan tidak membalas. Tapi apakah aku sekuat itu? mungkin itu benar. Aku Bodoh.
Belajarlah pada rasa kehilangan, ditinggalkan, tak dihargai. Semua ada masanya.
Hebatnya jika kau masih bertahan.
Taukah bahagianya aku saat bisa mencintaimu?, mungkin kau tak tau juga sakitnya aku kehilanganmu.
Percaya saja setiap rasa yang kau alami sekarang baik itu disakiti, dihianati atau dilupakan. Waktu jawabannya.
God Is Great, katamu pada seseorang yang baru saja kau kenal. Percayalah mungkin tuhan menggantikan aku yang baik, untuk kau dapatkan yang terbaik. Tapi jangan lupa aku juga hambanya.
Tertawaku kini bukan karena bahagia, melainkan mengingat hal lucu. Memintaku jangan meninggalkanmu justru kau yang melakukannya.
Sepertinya aku akan mulai memindahkan barang-barang yang mengingatkan dirimu padaku. Mencoba memindahkan foto didompetku serta menghapus selfie imut milikmu di galleryku.itu tidak sulit, hanya kenangannya sulit dilupakan.
Untuk hal tersakiti, dalam hidup kebanyakan orang akan mencoba melupakannya dengan cepat, beruntungnya aku tidak dan memilih menikmati sakitnya. AKU MENOLAK LUPA!
Dalam ajaran agama, Hukumnya berdosa jika menginginkan hal milik orang lain, aku tau. Maka biarkanlah aku berdosa.
Sepertinya aku sudah terjebak, dalam dunia yang tak bisa kumengerti. Berbalik lambat, Melangkah Mati.
Setidaknya kita tau bahwa setiap hari ada saja yang mati, hari ini juga begitu. Namun bukan Raga, Hatiku.
Tapi tuhan maha adil, maha mengerti.
Pengorbanan yang terbaik adalah saat melepas sesuatu yang tak mampu kita bahagiakan.
Saat sakitnya begitu bertubi, dan nikmatnya nanti kuharap juga berkali.
Ingatanku jelas sakit jika mengenangmu, tapi apa perlu aku selalu sakit?. Ku tunggu kau hadir, Penulis lembaran hidupku.
Penulis Lembaran hidup? Ya Mungkin kau selanjutnya, karena dia sudah selesai dengan kisahnya.
Kisah sekarang yang kuharap tiada nama orang lain selain aku yang jadi tokoh utamanya.
Secepat itu?
Tunggu! . Aku belum selesai.
Aku ingin kau hadir, masuk, memiliki hati. Yang sudah terkubur masa lalunya.
Sekarang Aku mencoba mempersiapkan diri. Agar apa ? Agar aku tidak mengecewakan yang tercinta oleh karena yang pernah dicinta.
Kelvin Junior,
04/07/2018
Baca juga Curhatan lain:
Penulis Lembaran Hidupku

Penulis Lembar Hidupku
Semua ini takdir, dan pertemuanku denganmu sepertinya jodoh. Lalu dia datang.
Selepas hilang sekeping hati yang kujaga layaknya intan, menghadirkan sebuah lubang dihati. Perih tapi entah bagian mana yang musti diberi obat.
Tidur terbayang, makan teringat.
Setiap hari aku menunggu kabar dari mu, menunggu kamu upload keseharianmu agar setidaknya aku tidak tertinggal dan mengetahui harimu. Meskipun sedikit itu lebih baik dari tidak mengetahui apapun.
Sosial media mungkin itu satu-satunya penghubung kita.
Tapi semakin ku mencari tau tentang mu, kabarmu, siapa alasanmu tertawa, kepada siapa senyum itu kau beri. Itu semakin melukaiku.
Mungkin saat ini kau sudah mulai menghapus bayang diriku, seharusnya akupun begitu tapi maaf cinta memang tak mengenal logika.
Tak ada orang yang baik-baik saja ketika ditinggal, itu benar tapi tak berlaku untukmu. Setidaknya itulah yang aku ketahui.
Meskipun begitu dalam hidup kita harus bergerak. Jika tak bisa setidaknya berpindahlah.
Kini yang kubutuhkan sebuah sandaran, aku lelah. Berpura-pura untuk kuat.
Hilangnya rasa harapan, percaya diri, mungkin juga selera mencintai.
Hati yang kuat adalah hati yang iklas, tidak mendendam dan tidak membalas. Tapi apakah aku sekuat itu? mungkin itu benar. Aku Bodoh.
Belajarlah pada rasa kehilangan, ditinggalkan, tak dihargai. Semua ada masanya.
Hebatnya jika kau masih bertahan.
Taukah bahagianya aku saat bisa mencintaimu?, mungkin kau tak tau juga sakitnya aku kehilanganmu.
Percaya saja setiap rasa yang kau alami sekarang baik itu disakiti, dihianati atau dilupakan. Waktu jawabannya.
God Is Great, katamu pada seseorang yang baru saja kau kenal. Percayalah mungkin tuhan menggantikan aku yang baik, untuk kau dapatkan yang terbaik. Tapi jangan lupa aku juga hambanya.
Tertawaku kini bukan karena bahagia, melainkan mengingat hal lucu. Memintaku jangan meninggalkanmu justru kau yang melakukannya.
Sepertinya aku akan mulai memindahkan barang-barang yang mengingatkan dirimu padaku. Mencoba memindahkan foto didompetku serta menghapus selfie imut milikmu di galleryku.itu tidak sulit, hanya kenangannya sulit dilupakan.
Untuk hal tersakiti, dalam hidup kebanyakan orang akan mencoba melupakannya dengan cepat, beruntungnya aku tidak dan memilih menikmati sakitnya. AKU MENOLAK LUPA!
Dalam ajaran agama, Hukumnya berdosa jika menginginkan hal milik orang lain, aku tau. Maka biarkanlah aku berdosa.
Sepertinya aku sudah terjebak, dalam dunia yang tak bisa kumengerti. Berbalik lambat, Melangkah Mati.
Setidaknya kita tau bahwa setiap hari ada saja yang mati, hari ini juga begitu. Namun bukan Raga, Hatiku.
Tapi tuhan maha adil, maha mengerti.
Pengorbanan yang terbaik adalah saat melepas sesuatu yang tak mampu kita bahagiakan.
Saat sakitnya begitu bertubi, dan nikmatnya nanti kuharap juga berkali.
Ingatanku jelas sakit jika mengenangmu, tapi apa perlu aku selalu sakit?. Ku tunggu kau hadir, Penulis lembaran hidupku.
Penulis Lembaran hidup? Ya Mungkin kau selanjutnya, karena dia sudah selesai dengan kisahnya.
Kisah sekarang yang kuharap tiada nama orang lain selain aku yang jadi tokoh utamanya.
Secepat itu?
Tunggu! . Aku belum selesai.
Aku ingin kau hadir, masuk, memiliki hati. Yang sudah terkubur masa lalunya.
Sekarang Aku mencoba mempersiapkan diri. Agar apa ? Agar aku tidak mengecewakan yang tercinta oleh karena yang pernah dicinta.
Kelvin Junior,
04/07/2018
Baca juga Curhatan lain:


Uda cukup bagus si pin, cuma masih ada yg typo2 dikit :p
ReplyDeletemakaciwww
Delete