Ads

Dosa Versi aku

Jujur saja semalam aku tergoda lagi oleh syaiton, tapi sebenarnya itu sudah menjadi keharusan.

Bayangkan aku terlelap pada pukul 11 malam, tapi di jam 12 aku terbangun.

Aku pikir entah apa yang sedang menganggu, dalam benak sudah terlintas bahwa sepertinya ada kehadiran sosok lain dikamar tidurku.

Memang saat itu teman sekamar sedang tidak berada dikamar, sedang menikmati indahnya menyantap kuliner sembari menghabiskan waktu untuk memadu kasih.

Nyata suara itu, seperti ada yang menyanyi 

"aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi... aku tenggelam dalam lautan luka dalam..."

Kupastikan sekali lagi suara apa itu, ternyata lambung ini sedang berpesta riah sambil menodong aku untuk mengisi mereka dengan asupan gizi.

Memang setelah bihun bakmi dan roti tidak ada lagi yang aku telan, tak heran jika lambung ini membuat konser musik hingga alam bawah sadar sontak terbangun dari mimpi yang baru aku masuki pintunya.

Setelah mempertimbangkan kesehatan dan juga ketidakdapatan mengulang kembali tidur, aku putusan untuk mencari Personal Trainer untuk sekedar mencari solusi atas perut yang kosong tanpa isi.

Personal Trainer ini adalah temanku, juga sebagai panutan dia yang mengajariku agar memperoleh berat badan ideal dengan cara yang cukup menyiksa. Mungkin dia hulk versi asli, tapi bagiku.

Setelah perbincangan panjang tibalah aku pada sebuah warung makan, nama warung terinpirasi mungkin dari salah satu suku ras si penjual.

Percaya atau tidak aku keluar pada jam 12 malam dengan niat hanya ingin makan lalu sejam membiarkan nasi melewati kerongkogan justru malah berbicang dengan teman sepekerjaan hingga jam 3 pagi.

Padahal aku ingat jam 6 pagi nanti aku harus memenuhi janji untuk jogging bersama kaisar besar.

Lucunya dalam perbicangan itu aku ada salah menyebutkan kalimat yang sepertinya akan menyakiti siapapun anak yang mendengarnya.

"Om itu memang mengesalkan, anjing banget...." kata aku dengan cepat.

Tapi taukah kau diary kecil om yang ku maksud dan lu lampiaskan umpatanku adalah ayah dari salah satu teman yang sedang bercanda gurau bersamaku.

Celaka, bagaimana malam ini aku jika bertemu atau membeli makan ke warung tersebut? Matilah aku.

Tak sampai disitu, ada lagi bermasalahan yang harus ku selesaikan hari ini.

Ada lagi tentang sebuah cinta yang terlarang, jujur aku enggan mengurusinya tapi ada salah satu orang yang memohon kepadaku untuk membantunya mengatasi masalahnya.

Aku bukan seorang yang bisa menyelesaikan masalah apapun, aku hanya mengunakan logika yang ada dan tidak mencoba mengeruhkan suasana dengan memberikan solusi yang lebih mengena.

Aku menulis ini masih begitu pagi, jujur lapar melanda rindu juga tak kunjung reda.

Meskipun aku binggung kemana rindu ini harus berada, namun kuarahkan lebih kepada ibu.

Sebelum aku berangkat kantor tadi ibu memberikan pesan singkat lewat WA, katanya Video Call sebentar Emak kolot (nenek) mau melihatmu katanya rindu sudah lama tak bersua.

Ketika aku menelpon, jujur saja rindu semakin pekat dan merekat.

Jerih payahku yang kuanggap tidak ada artinya ini, seketika menjadi sesuatu yang begitu luar biasa diceritakannya aku bekerja pada jam sekian dan memiliki posisi yang cukup baik layaknya arisan ibu-ibu. Aku begitu diagungkan, padahal menurut aku, diriku tak sebaik yang dikatakan.

"Mirip orang Philipina ya" kata Teteh Nur

"Lebih kaya orang korea ah" kata Ibu

Padahal sepertinya aku hanya mirip Chinese oriental Indonesia saja.

Menjelang siang cobaan datang, meskipun ini bukan dosa lagi tapi sepertinya sama saja.

Kau tau yang tersulit dari menafsu makan adalah ajakan makan 

Dari dalam hati berkata jangan, tangan tetap mengacung menandakan "aku mau satu"

Aku dianjurkan untuk menikmati proses, memangnya proses apa yang tak aku lakukan? Sepertinya jendela ocd 1 bukan hal yang mudah tapi aku sanggup.

Disela-sela menertawakan diri karena beda kata beda tingkah.

Aku menemukan kata-kata ini, "I wish i could hurt you like the way you hurt me, but i know even if i had the chance...I would never do it."

Jika diubah dalam Bahasa maka artinya, "aku berharap aku bisa menyakitimu seperti kamu menyakiti aku, tapi aku tau walaupun aku mendapatkan kesempatan itu aku tidak akan melakukannya."

Bagi yang hatinya belum sembuh semoga cepat menemukan tempat untuk dirimu berlabuh.

Sore menjelang malam, nampak biasa saja tidak ada yang spesial.

Hanya saja aku sempat menelpon keluarga besarku yang sedang berlibur dan melakukan kegiatan amal.

Bertepatan ditempat aku kecil sering singgah jika memang banyak masyarakat sana mengenalku dengan baik.

Munculah sebuah kata yang cukup mengores rindu yang suda lama tak kubiarkan tumbuh.

"Kepin kok ga jadi pulang? Pacarnya jadi dibawa ga? Emak udah siapin ayam udah beli lagi di gedein biar ntar pulang emak kolot potong buat bikin ayam goreng." Cukup mengharukan.

Aku dulu sering bermain di kampung, dan menghabiskan puluhan ekor ayam jika datang dalam hitungan bulan.

Meskipun sudah renta dan pelupa, ia tetap mengingat hal kesukaan orang yang ia sayangi.

Meskipun usia dapat bertambah dengan cepat, namun soal kenangan ia tak bergerak.

Malam nanti aku hanya ingin membagi tubuhku menjadi 3 bagian, untuk datang ke sebuah acara dari teman, memgembangkan massa otot lagi sekaligus jika bisa mengistirahatkan hidup.

Bagiku cara terbaik melupakan hal-hal yang melelahkan adalah berikan jadwal padat pada dirimu, itu sangat dan cukup membantu.


Sabtu, 19 September 2020

No comments

Powered by Blogger.