Bihun Bakmi Dan Roti
Hari ini kembali lagi aku bangkitkan nafsu untuk bercerita pada hal yang sebenarnya tidak akan menjawab tapi membuat terlihat semua lebih beradab.
Kuputuskan hari ini untuk kembali membuat karya kecil seperti diary yang akan ku isi setiap hari dan entah sampai kapan baru akan berakhir
Mungkin sampai aku lelah untuk menulis atau sampai tidak ada yang bisa aku ceritakan.
Pagi ini aku awali dengan semua aktivitas konyol yang membuat diri berasa begitu tak terkontrol.
Percaya atau tidak aku bangun jam 6.30 hanya untuk menikmati sebuah rasa bihun lokal.
Tidak sesuai dengan apa yang didapatkan ketika dihidangkan didepan mata, wanginya begitu memikat tapi soal rasa aku tak terpikat.
Hambar, hanya manis tanpa sebuah rasa asin.
Meskipun begitu aku hargai teman baru yang mengajak bertualang untuk mencicipi bihun ini.
Jika mulut bisa berbohong lain hal dengan perut ia tak dapat berdusta soal rasa.
Tidak aku habiskan dan kusisakan setengah, itupun jujur agak sulit menelannya.
Tak begitu buruk tapi juga membuat tak membangkitkan selera.
Menjelang siang aku kembali pergi kerumah makan yang sudah aku incar ketika ada rencana sarapan makanan aneh tersebut.
Benar saja bisik setan seolah memberikan signal bahwa tidak ada lagi yang harus aku timbang
Makan saja, nanti malam bakar lagi apa yang kau makan saat ini bisik setan menggoda
Janji tinggal janji aku tergoda dengan cepat, lahap dan habis. Sebuah mangkok bakmie dengan ukuran besar.
Personal Trainer ku berkata mengurangi mengkonsumsi tepung karena tidak baik bagi aku yang sedang menuju berat ideal.
Lantas setelah selesai dengan dosa yang aku lakukan aku kembali kepada rutinitas lawas.
Kerja dan bekerja, jujur duduk untuk 20 menit awal rasanya begitu berat.
Perut yang terisi penuh mengundang kantuk yang begitu riuh.
Tapi menjelang sore ada lagi yang perlu dipikirkan selain gravitasi kasur dari jauh yang mulai memanggil.
Aku merasa sedikit tidak adil pada keadaan, aku mengulang kembali apa yang sudah kulakukan dan memilah hal salah yang aku perbuat.
Kesannya aku sangat jahat dalam serial drama kali ini, bukanya harusnya aku hanya harus menjadi seorang yang humoris?
Mengapa berubah menjadi antagonis, cukup tragis.
Berceritalah aku kepada seorang yang jauh disana, katanya sebenarnya kami seri bukan aku yang berlakon penjahat tapi kami sama jahatnya.
Tak apa kupikir dia ada benarnya, tidak mungkin seseorang memancing percikan api tanpa adanya sebuah asap.
Sebetulnya aku hanya sedang mencoba menerima kenyataan yang tidak pernah kubayangkan.
Kubuang jauh segala pikiran yang tak kuinginkan, sama seperti ketika mematikan sebuah batang tembakau yang sudah tak ingin aku hisap.
Tapi ada salah pemikiran lain yang muncul tentang bagaimana menjadi seorang usahawan dan aku berkhayal membuat sebuah rencana besar atas apa yang sudah kuimpikan.
Indah... Sekali berkhayal.
Menjelang menutup aktivitas hari ini aku kembali memubuk dosa kepada berat ideal, aku tak mengetahui bahwa roti adalah hal yang dapat membuat dosa jika kau sedang berjuang menurunkan angka yang ada pada timbangan.
Kalori dan tepung, harus dihindari.
Saat ini aku sedang mencari cara agar lebih mencintai diriku sendiri, pasalnya mencintai orang lain tidak seindah mencintai diri sendiri.
Jika kau ingin kebahagiaan yang lama dan panjang tak perlu mencarinya kebelahan ataupun pelosok dunia, mulailah mencintai dirimu meskipun dia yang kau cintai sudah tidak mencintaimu. Setidaknya masih ada kamu, dirimu.
Jumat, 18 September 2020


Post a Comment