Bulan Suci Ramadan 2021
Jujur ketika sudah lama tidak menceritakan bagaimana keseharian ini berjalan. Aku semakin binggung bagaimana caranya menjelaskan jalan hidupku saat ini. Entah itu bahagia entah itu hanya indah sementara yang menunggu saat untuk sirna.
Yang aku tau saat ini banyak problematika hidup yang membuat aku harus menjadi individu yang lebih pemilih, baik itu memilih kepada siapa cerita keluhku untuk dibagikan, memilih kepada siapa aku harus lebih dekat atau sekedar dekat.
Bukan hanya barang original yang memiliki kompetitor kasar nan ilegal, dalam keseharian kita juga punya banyak sekali jenis lawan maupun kawan yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan sendiri.
Sedikit marah tapi tepatnya tulisan ini dibuat sedang dalam bulan suci Ramadan, tidak baik menyimpan amarah ataupun dengki kepada siapapun karena sesungguhnya bulan ini adalah bulan pengampunan.
Jadi kali ini aku lebih berserah dan berdoa kepada tuhan untuk diberikan kelancaran dalem setiap apapun yang kuperbuat, jika memang jalan yang kupilih tidak baik aku berharap Tuhan selalu membukakan pintu maafnya. Namun jika memang sudah sesuai dengan rancangannya, aku hanya ingin bilang "Aku berserah pada tanganmu bapa".
Aidahhhhh..... tagline ini sering menjadi ucapanku untuk berbagai ekpresi kecewa senang ataupun kesal, hihi aku mengikuti salah satu streamer gaming kesayangan yang sering mengatakan itu. Meskipun tulisan ini sangat religius dan seolah aku orang yang taat pada agama namun kenyataannya berbalik lurus.
Maklum aku berada difase tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan menikmati hidup yang katanya cuman sekali. Belum menemukan naungan yang terbaik untuk diri sendiri, jiwa muda masih membara tak pernah takut akan apapun yang ada didepan mata. Tidak baik tapi akan selalu alasan untuk tidak berhenti melakukannya.
Kembali mencari, mengais, dan menemukan berbagai dalih untuk tetap pada jalur yang tidak benar meskipun kadang hati sudah mulai terbuka untuk berhenti menjadi naga bonar.
Meskipun tidak merugikan siapapun tapi sebenarnya itulah sumber awal kenapa aku berpikir ada yang mulai salah, aku mulai glamor, tak terarah dan terombang ambing oleh gelombang kehidupan. Baik buruk menjadi tak terpilah.
Hati bilang gas! otak bilang jangan!.
Kata orang ikuti kata hatimu maka dirimu tidak akan pernah menyesal, pernah berpikir bagaimana jika hatimu yang salah? Pada kenyataannya hidup kadang selalu memaksa kita untuk tidak mengikuti kata hati.
Memaksa kita mengarungi lautan ganas hanya bermodalkan kata mati hidup ditangan tuhan, begitu sombong padahal kita hanya seogong daging busuk yang berdosa. Jika sang Pencipta sudah marah aku takut berantakan bagai bunga dandelion yang ditiup bunganya.
Banyak rasa kecewa dan juga berbagai alasan agar tidak mengatakan itu hal tercela tapi yang ada semakin aku hindari rasa bersalah itu semakin dekat aku dengan tekanan berat yang lebih berat dari apaun. Tekanan batin.
Sejenak kadang berpikir betapa indahnya burung-burung diudara yang tetap Ia pelihara meskipun tak memiliki akal dan budi, sedang aku apalah? Diberikan akal kadang tak masuk akal. Diberikan budi katanya tak ingat balas budi.
Tidak ada yang ku irikan sebenarnya dari burung, hanya saja dia bebas lepas dari belenggu-belenggu dan tak memiliki beban juga daya jangkauannya seluas langit diangkasa hanya saja aku kadang menyangkal bahwasannya aku juga seperti burung. Namun bedanya aku tersangkar dan seolah tidak memiliki naluri untuk menjangkau langit yang luas dengan sayap milikku. Aku yang menjadi burung dalam sangkar tidak ada bedanya dengan budak-budak koporat yang terjebak dalam sebuah ambisi seperti orang-orang yang katanya bergengsi.
Mengeluh tidak memberika jawaban aku tau, tapi bukakah mengeluh dapat mengobati sedikit luka batin? Untungnya aku mengeluh tidak kepada sesama. Mereka tanpak seolah jinak dan tidak berbahaya namun ketika aku tidak seperti apa yang mereka inginkan cakar dan taringnya yang tajam siap menghujam.
Kadang aku berdoa dan bertanya kepada Pencipta apa arti dari sebuah kehidupan? lahir bertumbuh bekerja lalu matikah?
Atau ada hal lain yang dapat aku lakukan selain menjalani kehidupan duniawi yang terlalu mendewakan materi? Sampai kapan semuanya akan berakhir lebih baik dan lebih mengerti aku.
Sejujurnya aku lelah akan hidup, keadaan layaknya perempuan yang selalu ingin dimintai pengertian. Tapi bisakah sejenak aku yang berbalik marah dan meminta agar aku yang dimengerti?
Langkah kaki mulai lunglai, dompet tidak terisi penuh tapi waktu sudah terbuang separuh.
Kini aku harus apa?
Berlari atau tetap pada kecepatan sebelumnya?
Semakin cepat berakhir atau hanya membuang waktu?
Semua yang ada didunia fana bagai sebuah kembang api, indah, sementara dan ada harga.
Aidah.. Anjing jugak.
Kamis, 22 April 2021
Baca juga :


Semangat
ReplyDelete