Tanpamu
Patahku berpusat di dia, seolah ketika aku berdoa kepada tuhan supaya dijatuhkan sejatuh-jatuhnya diaminkan saat itu juga.
Perginya sudah lama, tapi jujur rasanya ini masih sama.
Hubungannya udah berakhir, tapi entah mengapa hati seolah tak berhenti untuk kuatir.
Seolah setelah adanya dirimu, tak terlintas lagi bagaimana rasanya ingin jatuh cinta.
Aku terlanjur memupuk rasa itu setiap harinya kepadamu.
Burukmu, bodohmu bahkan ketidak sempurnaan yang melekat padamu aku mencintainya.
Meski adanya kini kita saling berbahagia dengan pilihan masing-masing.
Percayalah pernah ada hati yang begitu dipaksakan mencintai seseorang melebih kekuatannya.
Sekarang baik aku maupun dia, kami saling menjadi yang terbaik dengan bayang masa lalu yang masih terselip.
Bedanya langkah kakiku tertahan oleh takdir yang memang tersirat bukan untuk aku.
Dan sampai kisah ini usang termakan oleh waktu, terkadang masih saja air mata kembali berlinang meskipun sempat kering.
Maaf aku juga yang belum meredupkan api yang waktu itu sama-sama kita sulut, padahal sudah kita sepakati untuk memadamkan semuanya.
Rasanya belum sanggup bertahan dengan kesendirian disetiap harinya tanpamu, iya kamu.
Sabtu, 24 Oktober 2020
Baca juga :


Post a Comment