Ads

Tika Pergi

Meski pagi datang lebih cepat, kali ini aku lebih siap.

Semalam aku baik-baik saja, mungkin amarah sudah mulai reda.

Memberikan sedikit kesempatan bebas pada hati yang kurang pantas bisa jadi itu arti iklas.

Entah mengapa aku selalu buruk dalam hal bersandiwara, ketika aku muak semua tak dapat mengelak.

Buang muka saja, dari pada nantinya salah paham.

Dikira menantang padahal aku hanya kuah rendang.

Haha.....

Sama halnya dengan pencil yang patah aku lebih tidak menerima takdir untuk menjadi tumpul dan mencoba cara agar tetap runcing atau sekedar memiliki taring.

Puji tuhan aku melewati undangan dosa dengan baik, godaan terberat semalam adalah sebuah merek minuman bersoda yang sering kita sebut kola-kola.

Aku mengalahkannya kemarin tak kupilih ia, meskipun dari jauh sudah tampak ada godaan yang makin sulit ditepak.

Jika ia saja dapat kukalahkan apa lagi ia ia lainnya, tak ada yg lebih kusukai selain kaleng merah dengan penutup kaleng diatasnya.

Bahkan ku biarkan diri ini menerima dengan lapang dada ketika orang-orang beramai duduk manis mendapatkan perlindungan dari hujan yang turun, sementara aku berjuang melawan brutalnya air yang jatuh kebumi itu.

Tidak apa-apa bagiku itu sudah biasa kering hingga basah, basah hingga kembali mengering.

Tidak aku mundurkan niatan untuk tetap menjaga stabilitas angka tubuhku malam kemarin, setelah selesai dengan semua aku paksakan diri ini untuk mencapai tujuan saat ini.

Tujuan saat ini bukan hanya mendapatkan stabilitas angka tubuh yang ideal, tapi tipes. Minimal demam berat.

Aku sudah terlalu banyak melakukan hal yang salah, katanya ketika seseorang tidak dalam kondisi baik atau sakit dosanya dikurangi oleh malaikat jadi aku berharap sedikit dikurangi.

Cita-cita tipes atau minimal demam menjadi hal lucu yang ku bahas dengan Hulk Hitam, tapi aku serius.

Katanya aku begitu antusias, euforia yang aku bawa membuat ia juga terbawa arus semangat yang sedang aku pinggul.

"Buang semua nasi + udang + cumi + tepung yang udah lu makan semalam" Ucapnya dengan santai.

Aku hanya mengiyakan sembari mengatur nafas karena beban yang ia berikan seperti diatas kemampuan tubuhku yang dilapisi banyak lemak.

Tak tanggung sepertinya semalam aku dibantai habis hingga sepertinya menyalakan batang tembakau saja sudah tak sanggup.

Siang hari ini aku mencoba mengumpul semua ide-ide untuk memajukan kolam kecil ini.

Hari ini mungkin sedikit tidak bersahabat aku penuh jenuh dan peluh.

Banyak cobaan dihari rabu yang cerah ini, entah itu kalah entah itu mengalah.

Satu hal yang tetap membuat aku tak padam adalah jadwal yang akan datang nanti malam, aku akan kembali berlatih kembali.

Setidaknya angka tubuh ini sudah mulai menurun lagi, lagi dan lagi.

Aku berharap sakit ini juga berkurang seiring jalannya waktu, sampai pada akhirnya nanti ketika kami bertemu akulah orang yang tidak lagi menaruh rasa benci ataupun dengki.

Sebab seseorang pernah mengatakan padaku ketika sesuatu melukai hatimu waktulah yang akan menyembuhkannya.

Meskipun aku seorang pendendam profesional aku tak berharap kedepannya kami memiliki hubungan baik ataupun dapat berbicara layaknya seorang teman, karena bagiku hal terburuk dari sebuah hubungan adalah kebohongan.

Selain pengkhianatan, kebohongan yang paling tak dapat diterima meskipun sudah ada kata maaf.

Lagi pula belum ada kata maaf, yang ku dengar hanya seharusnya aku mengerti bagaimana kondisi dan situasinya. 

Jikapun nantinya aku dapat mengerti, lantas siapa yang mengerti tentang aku? Perduli setan umpatku.

Sedih dan binggung juga melanda dihari ini, Tika salah satu kelinci yang sudah aku pelihara kurang lebih 2-3 minggu belakangan dipanggil tuhan terlebih dahulu.

Terbujur kaku ia diluar kandanganya dengan raut wajah yang tetap menggemaskan, meskipun ia hanya hadir sebentar setidaknya ia pernah menjadi sebuah kenangan yang begitu erat.

Sejujurnya aku jadi trauma memelihara binatang, aku takut tak sanggup mengurusnya hingga akhirnya malaikat datang menjemput.

Yang lebih menjadi buah pikiran adalah Narko, pasangan dari pada Tika.

Sengaja ku beli sepasang kelinci itu dan kuberi nama Narko-Tika, karena katanya jika memelihara kelinci mereka tak boleh sendiri. Kelinci dapat mudah mengalami stress jika tak memiliki pasangan ataupun teman.

Untung saja aku manusia, sepertinya nanti Narko aku kuberikan kepada orang lain agar dia mendapatkan tempat yang layak dan juga kasih sayang yang lebih dari pemilik barunya.

Malam nanti tak ada yang spesial hanya saja aku akan terus melatih diri hingga ideal.

Sempat berpikir untuk kembali kedunia game dan menekuni beberapa cara bermain baru justru membuatku kadang semakin kesal dan semakin banyak berpikir.

Bukan menjadi pelarian saat penat, malah justru membuat semuanya semakin penat.

Aku berdoa semoga Tika dapat melakukan reinkarsi jadi makhluk yang lebih, dan memaafkan aku yang lalai menjaganya dengan baik.


23 September 2020


Baca juga :

No comments

Powered by Blogger.