Firasat Buruk
Pagi ini tubuh lebih ringan, padahal semalam aku dihujani oleh beban.
Meskipun diangkat berat, otot mengurat, tapi ada rasa yang terlepas dari jerat.
Katanya teriak saja jika sudah tak kuat, padahal ia tak tau dalam hati sudah mengatakan ini tak masuk akal sehat.
Begitu sulit hingga semua yang ada didepan mata rasanya tak bersahabat.
Tapi itulah proses.
Kadang kita mengiginkan sesuatu tanpa ada proses, ingat kawan emas yang berharga perlu dilebur sedemikian panas untuk menjadi lebih bernilai.
Kata Hulk Hitam aku orang kedua yang ia lihat begitu bersemangat, kadang justru aku yang membuat alasannya tetap hadir dan menetap untuk berlatih.
Aku berfikir, simpel saja ketika orang bersemangat aku yakin energi positifnya akan menyalur dari satu tubuh ke tubuh yang lain.
Itulah mengapa ada yang mengatakan jika bermain dengan tukang ikan asin kau akan bau ikan asin, jika bermain dengan sales parfum kau pasti akan wangi parfum.
Meskipun katanya jangan terlalu dipaksakan, atau aku terburu-buru aku tak apa bagiku yang mengerti aku dan limit diriku ya hanya aku.
Jangan mengatakan nanti, atau nawar menawar tentang sesuai yang baik.
Seolah kita menolak dunia dengan ego kita masing-masing, mengatakan nanti saja seolah waktu masih ada.
Jika malam ini kau sudah dipanggil yang Esa, apa kau yakin esok akan tiba?
Itu juga alasanku berdiri disini mengikuti setiap gerakan aneh entah untuk bagian pantat, tangan dan dada.
Jujur sebagai mantan atlit seni bela diri aku cukup malu melakukannya, rasanya kejantanan sedikit menurun.
Waktu yang bisa aku pakai untuk berselancar ria disosmed, bermain game, atau sekedar nongkrong cantiks bersama sahabat mulai terkikis oleh jadwal sehat yang aku buat sendiri.
Tapi itulah proses, yang diminta bukan bagaimana caranya menjadi yang tercepat tapi menikmati setiap metodenya serta mengerti setiap langkah yang diberikan.
Bisa dan mengerti adalah 2 hal yang berbeda, bisa belum tentu mengerti tapi jika sudah mengerti pasti bisa.
Siang ini cuaca setengah mendung setengah cerah.
Seolah iya ingin mengatakan bahwa setiap kehidupan ini memiliki 2 sisi, terang dan gelap.
Kita yang memilih jalur mana yang akan kita tempuh untuk diri kita.
Di sudut pandang lain aku menatap langit yang cerah namun tetap diiringi gemiris kecil yang seolah seperti diriku.
Aku terlihat baik baik saja layaknya langit yang cerah namun tidak dalam isi sanubari ada gerimis kecil yang masih mendera.
Sore hari datang begitu cepat seiring dengan datang kabar burung yang cukup mengertak.
Aku katanya sedang tidak dalam kondisi terbaik, aura bintangku sedang redup.
Dan ada yang sedang mencari keuntungan dari situasi seperti itu
Malam menjelang datang lagi sebuah firasat buruk, dalam hati ini mengatakan ada sesuatu yang aneh tapi itu entah apa.
Gejalanya awal sederhana, sulit nyenyak ketika tidur dan suasana hati selalu was-was.
Kata Susan, aku sedang berada dimasa bintang yang redup.
Aku paham, sebab ia pernah mengatakan sesuatu kepadaku yang dulunya kunilai tidak logis tapi sekarang terdengar begitu begis.
Sesuatu berbau magis.
Tapi yasudahlah, sepertinya kehilangan cincin yang berisikan doa bapa kami juga menjadi salah satu pertanda yang diberikan oleh tuhan namun belum dapat aku baca.
Meskipun katanya jangan khawatir aku tetap sedikit bergundik, menerka-nerka siapakah gerangan yang mencoba mengusik.
Sudahlah lah....
Aku tak terlalu memikirkan ini semua, tapi yang lebih kupikirkan adalah semoga nanti dapat tidur cepat.
Dan semoga bisa lebih lelap.
24 September 2020
Baca juga :


Post a Comment