Menutup Langkah Bagi Pengkhianat
Markas Cetar - Menutup Langkah Bagi Pengkhianat adalah pilihan terbaik terlebih untuk dibagikan kepada kalian para pembaca yang memiliki konflik yang sama.
Menutup Langkah Bagi Pengkhianat
Bukan hati namanya jika tega meninggalkan orang yang dicintai dengan begitu saja, namun jika bertahan hanya membuat duri dalam daging untuk apa? Hati ini butuh penjaga setia, bukan hanya pengagum sesaat lalu berkhianat.
Tak ada yang pahit diawal, semua terasa manis dan akupun larut olehnya. Dalam ilmu kedokteran yang pahit pasti menyembuhkan, yang manis malah akan menimbulkan penyakit.
Awalnya kupikir itu tak perlulah untuk di jadikan sebuah acuan, yang namanya cinta pastilah indah. Denganmu aku titipkan separuh hati, dengamu pula rusuk ini seperti bertemu dengan tuannya.
Awal kehadiranmu membuatku merasa tak pernah sendirian, menumbuhkan kembali keberanian untuk kembali menitipkan hati. Selalu ada ketika aku memang sedang membutuhkan tempat untuk berbagi, mencoba berkelakuan bodoh meskipun hati ini mengetahui kau hanya ingin membuatku tersenyum. Sederhana tapi itu membuatku bahagia.
Mungkin aku mulai terbuai oleh apa yang kau perjuangkan, namun hati tetap sulit percaya. Ibarat kertas lusuh, meskipun kembali, diperbaiki, dirawat, atau bahkan kau setrika. Bekas itu tetap ada, tak mungkin dapat mengembalikannya seperti semua.
Aku mengaku perjuanganmu untuk mendapatkan hati ini hebat, kau yang menemukan hal-hal gila untuk menyetuh titik terpeka milik setiap wanita. Hatiku berhasil kau curi.
Akan kubiarkan kau berjuang, aku ingin melihat kesungguhan hatimu. Karena aku tak membutuhkan hati yang setengah, lelah untuk mengulang terus dengan orang yang berbeda. Berharap munculnya sosok dirimu adalah sebuah hadiah dari Tuhan atas patahnya hatiku.
Awal tahun 2018 menjadi awal pula untuk aku dan kau. Setelah cukup lama kau berjuang memenangkan hati ini. Akhinya aku percayakan kau yang menjaganya. Layaknya kapal, aku sudah siap kau bawa mengarungi samudra, melewati badai yang menghadang. Apapun itu asal kau bersamaku.
Terimakasih atas segala perjuanganmu dan seolah membuatku menjadi satu-satunya wanita yang pernah kau cintai begitu dalam. Terimakasih juga atas segala waktu yang kau sediakan untuk membantuku sembuh atas luka lama.
Sebagai wanita aku bisa dibilang tidak terlalu mengekang merpatiku untuk berteman dan pergi dengan siapa. Yang kupercayai setia memberi kepercayaan bukan menutup ruang hidupnya.
Terlebih kami hanya sepasang kekasih, tak baik jika membatasinya soal berteman yang akan menjadi relasinya.
Inilah hasil perjuanganmu, terbukti aku percaya dan tak perlulah aku khawatir ataupun menaruh curiga. Jika ia bisa berjuang sekeras itu, pastilah dia akan berpikir keras juga jika untuk kehilanganku.
Bukannya aku tak ingin mencegah hal buruk terjadi, tapi aku mengerti. Sebaik apapun aku menjaga, sehebat apapun aku menahan, jika niat untuk berdusta itu tumbuh aku bisa apa?
Setiap hubungan tidak mungkin tidak ada masalah bukan? Tapi apa perlu secepat ini? Rasanya seperti aku tertipu. Perjuangan keras diawal kemana semua itu? Berbulan-bulan kau berjuang untuk mendapatkan tempat dihati ini, lantas setelah kau raih semua itu. Aku di campakan begitu saja? Manusiakah dirimu?
Pagi yang biasanya membuatku semangat untuk melakukan aktivitas, ku pakai untuk memikirkan apakah aku terlena dengan perjuangan palsu? Entah berapa banyak rasa kecewa yang kusimpan dalam diam.
Malam panjang biasanya diisi oleh pesan darimu, seseorang yang ku anggap pantas. Kini malam kuhabiskan untuk memikirkan apakah kurangnya diriku? Tak pantaskah aku mendapatkan cinta sejati? Mengapa aku dipermainkan? Untuk pertolongan pertama, sepertinya perlu menerima kenyataan bahwa detik ini kau bukan miliku lagi.
Sebulan setelah kau kandaskan hatiku, kau datang kembali. Mengertikah cinta itu tak berlogika? Aku mengaku menjadi korban atas rasa ini. Saat itu kau tinggalkan aku seperti batang tebu yang dapat aku rasakan manisnya setelah itu kau buang begitu rasa manisnya sudah habis. Seperti itulah kepercayaanku yang kau bantai dengan sadis.
Bodohnya sampai saat ini aku tak mengerti alasanmu meninggalkanku. Terlebih kubuat lagi kesalahan fatal dengan menerimamu kembali dalam hidupku.
Bosan? Tidak. Aku lebih percaya kau mempunyai wanita lain. Tapi aku tak kuasa menolak hati yang memang masih menginginkan nama lama yang menjadi pemiliknya.
Suara hati tak pernah salah, feeling ini benar kau meninggalkanku karena memang ada wanita lain. Meski begitu aku mengerti, bukankah sang pencipta mengajarkan kepada kita bahwa memaafkan sesalahan orang lain itu perlu? Bahkan harus tujuh puluh kali tujuh satu hari. Baiklah aku memberimu kesempatan.
Cinta hadir untuk sebuah kebahagiaan, bukan sakit yang mendalam. Mungkin roda berputar, kini aku yang berjuang mendengarkan apa yang sebetulnya menyiksa batin. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya agar kau mengerti hancurnya hati yang pernah kau sembuhkan.
Ada masanya kau hanya tersesat oleh cinta yang hadir sekedar singgah, yang perlu kau ketahui aku masih menunggu disini hingga kau kembali. Menjadikan aku satu-satunya pemilik hati, bukan yang kedua ataupun apa lagi yang ketiga.
Jika kau pikir kembalinya dirimu membuat luka ini membaik, nyatanya tidak. Kau tambahkan sebuah lubang besar dihati ini, dengan pesan singkat kau kirimkan lewat layar ponselmu.
Kau bercerita tentang wanitamu yang baru, dengan manisnya aku mendegarkan dan memberikan saran terbaik untukmu. Seperti aku tak berakal saat itu. Meskipun logika menolak tapi apalah daya hati memohon.
Menjadikan semua ini hikmah dan menerimanya dengan lapang dada tidaklah mudah, tapi aku percaya kau pasti dapat berubah dan memperbaikinya. Dalam hati menyakinkan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, terlebih untukmu kasih.
Setelah pengkhianatan itu, banyak terucap dari mulutmu beragam permohononan maaf. Mengertikah engkau bahwa yang kuinginkan bukan sekedar kata maaf? Aku ingin kau benar-benar berubah dan tak mencoba bermain dengan perasaan ini. Hanya itu, sederhana tapi sulit bagimu.
Jika kau bertanya apa benar aku memaafkanmu? Pastinya. Bukankah telah kuberi semua? Kepercayaan, kesetiaan, bahkan maaf untukmu. Tapi sepertinya semua itu bertuju pada orang yang salah. Untuk kali ini pastikan kau melakukan yang terbaik, karena benar kata seseorang yang bersungguh tak pernah datang berkali-kali.
Entah kenapa setelah penghianatan pertamamu, justru kembalinya diriku padaku membuatku jauh lebih mempercayaimu. Jika logikaku saat itu dapat kupakai harusnya aku lebih berhati-hati dan tidak berharap banyak padamu.
Pernah mendengar semua berawal dari satu? Setelah itu baru ada namanya dua, tiga , dan empat. Itulah yang kudengar. Ketika kita ditipu sekali, pastinya orang yang menipu itu akan mencobanya kembali.
Percuma mengatakannya kepada orang yang jatuh cinta, jangankan aku mengubrisnya untuk mendegarnya saja tak ingin. Yang ada hati justru makin memberikan kepercayaan bahwa dialah satu-satunya yang bisa memegang amanat.
Tapi semua tak sama kali ini, aku tak dapat melihat cela pada dirimu. Yang terlihat hanya cinta yang besar, tulus dan memang kesalahan kemarin merubahmu menjadi lebih baik.
Untuk sebuah hubungan, cemburu adalah hal yang sangat dan harus dimaklumi, ketika seseorang tidak lagi mengkhawatirkanmu, mencarimu, atau membuat jarak. Disana ada hati yang mulai mendingin. Dan kau tau apa? Disana para kesempatan orang ketiga hadir dan merusak segalanya.
Katamu cemburuku tak beralasan,cintaku berlebihan. Kasih! ini bukan lirik sebuah lagu yang terlantun begitu saja. Ini hanya sebuah organ tubuh yang sensitif, mengertilah ketika seorang wanita sudah kau dapatkan hatinya, maka kau sudah memiliki semuanya.
Mungkin kaulah satu-satunya penulis lembaran hidupku yang dapat membuatku merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Mengerti arti menurunkan ego untuk mempertahakan hubungan.
Taukah dirimu? Aku begitu senang ketika kau mencoba mengenalkan diriku pada orang yang dekat dengan dirimu, temanmu atau siapapun itu. Rasanya seperti aku memang ratu dihatimu. Seolah istanamu hanya milikku.
Begitu terbuai aku dengan perlakuanmu kepadaku, lantas bagaimana caranya aku berhati-hati? Sudah kulupakan semua itu. Yang aku tau kau datang layaknya pangeran, mewujudkan segala keinginan putrinya.
Namun kenyataan seperti itu tak bertahan lama, kata pepatah sepintar apapun seekor tupai yang melompat pasti dia akan jatuh juga. Sehebat apapun kau simpan bangkai itu pasti akan tercium juga.
Netraku yang terhalang oleh cintaku, membuatku jatuh kembali ke lubang yang sama. Kesempatan yang ada tidak kau pakai dengan sebaik-baiknya. Wanita lain kau gubris, perusak hubungan kau terima, yang berjuang tak kau pandang , tapi mengapa justru aku yang kau sia-siakan?
Aku salah, tak sepantasnya aku menyebutmu sebagai pangeran. Karena dalam dongengpun
seorang pangeran yang kaya raya dan tampan hanya memiliki satu wanita dalam hidupnya.
Mengapa kau begitu tega? Dimana kau taruh semua kisah yang pernah kau tuliskan bersamaku? Atau aku hanya kau jadikan sebuah objek saat kau bosan?
Tapi tak perlu kau jelaskan, sudah banyak nasehat dari orang yang sebetulnya harus kudengar. Dan saat itu aku tak gubris akibat kepercayaanku padamu. Aku hanya berpikir perduli apa kata orang yang merasakan kisah ini aku dan kau. Nyatanya semua terulang, kisah ini sungguh tak seperti yang ku ingikan. Bukan hanya ada aku dan kau dalam kisah ini, melainkan ada dia.
Yang kusesali bukan waktu yang kubuang bersamamu, tapi kepercayaan ini sungguh besar. Jika memang tak pernah ada cinta dalam hatimu, untuk apa datang menemui orang tuaku? Apa mungkin itu hanya caramu untuk mengelabuiku untuk kedua kalinya?
Tak terhitung kutuk yang tak terucap oleh mulut ini, jika bisa sudah kusampaikan kepadamu semua yang ingin kukatakan. Tapi terlagi aku hanya korban disini, tertangkap basahnya nama wanita lain dalam ponsel milikmu membuatku mengakhiri segalanya.
Ketika orang yang dicinta mencoba membuat ruang untuk orang lain, hati siapa yang kuat untuk bertahan? Emosi memuncak. bukannya aku hendak membuat keputusan disaat marah.
Tapi ini jalan terbaik, cinta yang berakar dusta kedepannya pasti tidak akan memiliki kisah yang baik. Aku sadari hati ini belum bisa menerima, tapi bukankah lebih baik aku menjaga hati ini dari pada orang yang ingin melukainya? Jangan mengatakan aku jahat, kau yang mengajarkan aku harus seperti ini.
Kali ini sampai langit runtuhpun, kau bukan inginku lagi. Biarkan waktu yang mengikis satu persatu daun harapan yang pernah tumbuh. Sulit tak apa, terluka kembali dalam hal yang sama aku sudah tak ingin.
Kembali lagi malam seperti waktu itu, percis sekali rasanya bahkan sakitnya berkali-lipat. Kebiasaan bersamamu kini telah tiada, kini kuhabiskan untuk melakukan aktivitas yang lebih positif. Maafkan aku juga yang kini harus menutup langkah bagi pengkianat, biarkan aku mencoba melupakanmu.
***
Ingatkah pernah kau ucapkan
Ratu di hatimu cinta itu aku
Ratu di istanamu aku
Ingatkah pernah kau ucapkan
Takkan pernah ingin tinggalkanku
Sumpah dan janjimu itu apakah sudah kau lupakan
Daku pernah menjadi yang tersayang
Daku juga perrnah menjadi yang tercinta
Mungkin dirimu lupa
Disaat sang penggoda datang
Kau biarkan dia hancurkan istanaku
Ternyata kau lupa aku ratumu
Kini akupun telah pergi
Merelakan kau denganya
Bersama janji yang tak pernah kau tepati
***
Tulisan ini tentangku, tentang cinta yang begitu besar, juga luka yang begitu dalam. Kepercayaan yang tak dihargai, juga pengertian sesungguhnya arti seorang pengkhianat.
Perjuanganmu yang lama tak sebanding dengan kisah singkat ini, pengorbananku juga terbayar dengan sebuah pengkhianatan.
Setiap tulang rusak pasti akhirnya akan kembali kepada miliknya, mungkin rusuk miliku bukan kepunyaanmu. Atau memang sengaja kau tak ingin mengakuinya? Sudahlah biarkan kini aku mencari penyembuh luka.
Pesanku, berbahagialah dirimu dengan dia, yang telah menjadi orang ketiga dalam kisah antara aku dan kau. Aku berharap juga semoga kau cepat menemukan titik terang dan tak menambah barisan sakit hati. Juga kuharap kau tak mendapatkan apa yang dinamakan karma.
Jika kau baca semua ini, aku tak berharap simpatimu. Juga tak menginginkan apa-apa darimu. Tapi cobalah membaca lirik dari lagu ini, pahami dan renungkan.
Saatnya kini aku bangkit dari kenyataan dan tak perlu lagi mengungkit, memperbaiki diri serta mempersiapkan hati. Mencoba merelakan meskipun pada akhirnya harus ada yang dikorbankan.
Hari ini tepat sekali dengan kemerdekaan negara Indonesia tercinta, kuucapkan selamat hari kemerdekaan. Dan bagi kalian yang masih di jajah oleh rasa sakit, pengkhianatan, serta rasa yang tak terbalas. Segera berjuang untuk lepas dan berteriaklah AKU INGIN MERDEKA!
Kelvin Junior,
17-08-2018
Baca juga True Story lainya :
Menutup Langkah Bagi Pengkhianat
![]() |
| Menutup Langkah Bagi Pengkhianat |
Tak ada yang pahit diawal, semua terasa manis dan akupun larut olehnya. Dalam ilmu kedokteran yang pahit pasti menyembuhkan, yang manis malah akan menimbulkan penyakit.
Awalnya kupikir itu tak perlulah untuk di jadikan sebuah acuan, yang namanya cinta pastilah indah. Denganmu aku titipkan separuh hati, dengamu pula rusuk ini seperti bertemu dengan tuannya.
Awal kehadiranmu membuatku merasa tak pernah sendirian, menumbuhkan kembali keberanian untuk kembali menitipkan hati. Selalu ada ketika aku memang sedang membutuhkan tempat untuk berbagi, mencoba berkelakuan bodoh meskipun hati ini mengetahui kau hanya ingin membuatku tersenyum. Sederhana tapi itu membuatku bahagia.
Mungkin aku mulai terbuai oleh apa yang kau perjuangkan, namun hati tetap sulit percaya. Ibarat kertas lusuh, meskipun kembali, diperbaiki, dirawat, atau bahkan kau setrika. Bekas itu tetap ada, tak mungkin dapat mengembalikannya seperti semua.
Aku mengaku perjuanganmu untuk mendapatkan hati ini hebat, kau yang menemukan hal-hal gila untuk menyetuh titik terpeka milik setiap wanita. Hatiku berhasil kau curi.
Akan kubiarkan kau berjuang, aku ingin melihat kesungguhan hatimu. Karena aku tak membutuhkan hati yang setengah, lelah untuk mengulang terus dengan orang yang berbeda. Berharap munculnya sosok dirimu adalah sebuah hadiah dari Tuhan atas patahnya hatiku.
Awal tahun 2018 menjadi awal pula untuk aku dan kau. Setelah cukup lama kau berjuang memenangkan hati ini. Akhinya aku percayakan kau yang menjaganya. Layaknya kapal, aku sudah siap kau bawa mengarungi samudra, melewati badai yang menghadang. Apapun itu asal kau bersamaku.
Terimakasih atas segala perjuanganmu dan seolah membuatku menjadi satu-satunya wanita yang pernah kau cintai begitu dalam. Terimakasih juga atas segala waktu yang kau sediakan untuk membantuku sembuh atas luka lama.
Sebagai wanita aku bisa dibilang tidak terlalu mengekang merpatiku untuk berteman dan pergi dengan siapa. Yang kupercayai setia memberi kepercayaan bukan menutup ruang hidupnya.
Terlebih kami hanya sepasang kekasih, tak baik jika membatasinya soal berteman yang akan menjadi relasinya.
Inilah hasil perjuanganmu, terbukti aku percaya dan tak perlulah aku khawatir ataupun menaruh curiga. Jika ia bisa berjuang sekeras itu, pastilah dia akan berpikir keras juga jika untuk kehilanganku.
Bukannya aku tak ingin mencegah hal buruk terjadi, tapi aku mengerti. Sebaik apapun aku menjaga, sehebat apapun aku menahan, jika niat untuk berdusta itu tumbuh aku bisa apa?
Setiap hubungan tidak mungkin tidak ada masalah bukan? Tapi apa perlu secepat ini? Rasanya seperti aku tertipu. Perjuangan keras diawal kemana semua itu? Berbulan-bulan kau berjuang untuk mendapatkan tempat dihati ini, lantas setelah kau raih semua itu. Aku di campakan begitu saja? Manusiakah dirimu?
Pagi yang biasanya membuatku semangat untuk melakukan aktivitas, ku pakai untuk memikirkan apakah aku terlena dengan perjuangan palsu? Entah berapa banyak rasa kecewa yang kusimpan dalam diam.
Malam panjang biasanya diisi oleh pesan darimu, seseorang yang ku anggap pantas. Kini malam kuhabiskan untuk memikirkan apakah kurangnya diriku? Tak pantaskah aku mendapatkan cinta sejati? Mengapa aku dipermainkan? Untuk pertolongan pertama, sepertinya perlu menerima kenyataan bahwa detik ini kau bukan miliku lagi.
Sebulan setelah kau kandaskan hatiku, kau datang kembali. Mengertikah cinta itu tak berlogika? Aku mengaku menjadi korban atas rasa ini. Saat itu kau tinggalkan aku seperti batang tebu yang dapat aku rasakan manisnya setelah itu kau buang begitu rasa manisnya sudah habis. Seperti itulah kepercayaanku yang kau bantai dengan sadis.
Bodohnya sampai saat ini aku tak mengerti alasanmu meninggalkanku. Terlebih kubuat lagi kesalahan fatal dengan menerimamu kembali dalam hidupku.
Bosan? Tidak. Aku lebih percaya kau mempunyai wanita lain. Tapi aku tak kuasa menolak hati yang memang masih menginginkan nama lama yang menjadi pemiliknya.
Suara hati tak pernah salah, feeling ini benar kau meninggalkanku karena memang ada wanita lain. Meski begitu aku mengerti, bukankah sang pencipta mengajarkan kepada kita bahwa memaafkan sesalahan orang lain itu perlu? Bahkan harus tujuh puluh kali tujuh satu hari. Baiklah aku memberimu kesempatan.
Cinta hadir untuk sebuah kebahagiaan, bukan sakit yang mendalam. Mungkin roda berputar, kini aku yang berjuang mendengarkan apa yang sebetulnya menyiksa batin. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya agar kau mengerti hancurnya hati yang pernah kau sembuhkan.
Ada masanya kau hanya tersesat oleh cinta yang hadir sekedar singgah, yang perlu kau ketahui aku masih menunggu disini hingga kau kembali. Menjadikan aku satu-satunya pemilik hati, bukan yang kedua ataupun apa lagi yang ketiga.
Jika kau pikir kembalinya dirimu membuat luka ini membaik, nyatanya tidak. Kau tambahkan sebuah lubang besar dihati ini, dengan pesan singkat kau kirimkan lewat layar ponselmu.
Kau bercerita tentang wanitamu yang baru, dengan manisnya aku mendegarkan dan memberikan saran terbaik untukmu. Seperti aku tak berakal saat itu. Meskipun logika menolak tapi apalah daya hati memohon.
Menjadikan semua ini hikmah dan menerimanya dengan lapang dada tidaklah mudah, tapi aku percaya kau pasti dapat berubah dan memperbaikinya. Dalam hati menyakinkan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, terlebih untukmu kasih.
Setelah pengkhianatan itu, banyak terucap dari mulutmu beragam permohononan maaf. Mengertikah engkau bahwa yang kuinginkan bukan sekedar kata maaf? Aku ingin kau benar-benar berubah dan tak mencoba bermain dengan perasaan ini. Hanya itu, sederhana tapi sulit bagimu.
Jika kau bertanya apa benar aku memaafkanmu? Pastinya. Bukankah telah kuberi semua? Kepercayaan, kesetiaan, bahkan maaf untukmu. Tapi sepertinya semua itu bertuju pada orang yang salah. Untuk kali ini pastikan kau melakukan yang terbaik, karena benar kata seseorang yang bersungguh tak pernah datang berkali-kali.
Entah kenapa setelah penghianatan pertamamu, justru kembalinya diriku padaku membuatku jauh lebih mempercayaimu. Jika logikaku saat itu dapat kupakai harusnya aku lebih berhati-hati dan tidak berharap banyak padamu.
Pernah mendengar semua berawal dari satu? Setelah itu baru ada namanya dua, tiga , dan empat. Itulah yang kudengar. Ketika kita ditipu sekali, pastinya orang yang menipu itu akan mencobanya kembali.
Percuma mengatakannya kepada orang yang jatuh cinta, jangankan aku mengubrisnya untuk mendegarnya saja tak ingin. Yang ada hati justru makin memberikan kepercayaan bahwa dialah satu-satunya yang bisa memegang amanat.
Tapi semua tak sama kali ini, aku tak dapat melihat cela pada dirimu. Yang terlihat hanya cinta yang besar, tulus dan memang kesalahan kemarin merubahmu menjadi lebih baik.
Untuk sebuah hubungan, cemburu adalah hal yang sangat dan harus dimaklumi, ketika seseorang tidak lagi mengkhawatirkanmu, mencarimu, atau membuat jarak. Disana ada hati yang mulai mendingin. Dan kau tau apa? Disana para kesempatan orang ketiga hadir dan merusak segalanya.
Katamu cemburuku tak beralasan,cintaku berlebihan. Kasih! ini bukan lirik sebuah lagu yang terlantun begitu saja. Ini hanya sebuah organ tubuh yang sensitif, mengertilah ketika seorang wanita sudah kau dapatkan hatinya, maka kau sudah memiliki semuanya.
Mungkin kaulah satu-satunya penulis lembaran hidupku yang dapat membuatku merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Mengerti arti menurunkan ego untuk mempertahakan hubungan.
Taukah dirimu? Aku begitu senang ketika kau mencoba mengenalkan diriku pada orang yang dekat dengan dirimu, temanmu atau siapapun itu. Rasanya seperti aku memang ratu dihatimu. Seolah istanamu hanya milikku.
Begitu terbuai aku dengan perlakuanmu kepadaku, lantas bagaimana caranya aku berhati-hati? Sudah kulupakan semua itu. Yang aku tau kau datang layaknya pangeran, mewujudkan segala keinginan putrinya.
Namun kenyataan seperti itu tak bertahan lama, kata pepatah sepintar apapun seekor tupai yang melompat pasti dia akan jatuh juga. Sehebat apapun kau simpan bangkai itu pasti akan tercium juga.
Netraku yang terhalang oleh cintaku, membuatku jatuh kembali ke lubang yang sama. Kesempatan yang ada tidak kau pakai dengan sebaik-baiknya. Wanita lain kau gubris, perusak hubungan kau terima, yang berjuang tak kau pandang , tapi mengapa justru aku yang kau sia-siakan?
Aku salah, tak sepantasnya aku menyebutmu sebagai pangeran. Karena dalam dongengpun
seorang pangeran yang kaya raya dan tampan hanya memiliki satu wanita dalam hidupnya.
Mengapa kau begitu tega? Dimana kau taruh semua kisah yang pernah kau tuliskan bersamaku? Atau aku hanya kau jadikan sebuah objek saat kau bosan?
Tapi tak perlu kau jelaskan, sudah banyak nasehat dari orang yang sebetulnya harus kudengar. Dan saat itu aku tak gubris akibat kepercayaanku padamu. Aku hanya berpikir perduli apa kata orang yang merasakan kisah ini aku dan kau. Nyatanya semua terulang, kisah ini sungguh tak seperti yang ku ingikan. Bukan hanya ada aku dan kau dalam kisah ini, melainkan ada dia.
Yang kusesali bukan waktu yang kubuang bersamamu, tapi kepercayaan ini sungguh besar. Jika memang tak pernah ada cinta dalam hatimu, untuk apa datang menemui orang tuaku? Apa mungkin itu hanya caramu untuk mengelabuiku untuk kedua kalinya?
Tak terhitung kutuk yang tak terucap oleh mulut ini, jika bisa sudah kusampaikan kepadamu semua yang ingin kukatakan. Tapi terlagi aku hanya korban disini, tertangkap basahnya nama wanita lain dalam ponsel milikmu membuatku mengakhiri segalanya.
Ketika orang yang dicinta mencoba membuat ruang untuk orang lain, hati siapa yang kuat untuk bertahan? Emosi memuncak. bukannya aku hendak membuat keputusan disaat marah.
Tapi ini jalan terbaik, cinta yang berakar dusta kedepannya pasti tidak akan memiliki kisah yang baik. Aku sadari hati ini belum bisa menerima, tapi bukankah lebih baik aku menjaga hati ini dari pada orang yang ingin melukainya? Jangan mengatakan aku jahat, kau yang mengajarkan aku harus seperti ini.
Kali ini sampai langit runtuhpun, kau bukan inginku lagi. Biarkan waktu yang mengikis satu persatu daun harapan yang pernah tumbuh. Sulit tak apa, terluka kembali dalam hal yang sama aku sudah tak ingin.
Kembali lagi malam seperti waktu itu, percis sekali rasanya bahkan sakitnya berkali-lipat. Kebiasaan bersamamu kini telah tiada, kini kuhabiskan untuk melakukan aktivitas yang lebih positif. Maafkan aku juga yang kini harus menutup langkah bagi pengkianat, biarkan aku mencoba melupakanmu.
***
Ingatkah pernah kau ucapkan
Ratu di hatimu cinta itu aku
Ratu di istanamu aku
Ingatkah pernah kau ucapkan
Takkan pernah ingin tinggalkanku
Sumpah dan janjimu itu apakah sudah kau lupakan
Daku pernah menjadi yang tersayang
Daku juga perrnah menjadi yang tercinta
Mungkin dirimu lupa
Disaat sang penggoda datang
Kau biarkan dia hancurkan istanaku
Ternyata kau lupa aku ratumu
Kini akupun telah pergi
Merelakan kau denganya
Bersama janji yang tak pernah kau tepati
***
Tulisan ini tentangku, tentang cinta yang begitu besar, juga luka yang begitu dalam. Kepercayaan yang tak dihargai, juga pengertian sesungguhnya arti seorang pengkhianat.
Perjuanganmu yang lama tak sebanding dengan kisah singkat ini, pengorbananku juga terbayar dengan sebuah pengkhianatan.
Setiap tulang rusak pasti akhirnya akan kembali kepada miliknya, mungkin rusuk miliku bukan kepunyaanmu. Atau memang sengaja kau tak ingin mengakuinya? Sudahlah biarkan kini aku mencari penyembuh luka.
Pesanku, berbahagialah dirimu dengan dia, yang telah menjadi orang ketiga dalam kisah antara aku dan kau. Aku berharap juga semoga kau cepat menemukan titik terang dan tak menambah barisan sakit hati. Juga kuharap kau tak mendapatkan apa yang dinamakan karma.
Jika kau baca semua ini, aku tak berharap simpatimu. Juga tak menginginkan apa-apa darimu. Tapi cobalah membaca lirik dari lagu ini, pahami dan renungkan.
Mungkin sekarang kau masih berbahagia
Dengan dirinya, dengan cintanya
Tapi ku yakin suatu saat nanti
Kau kan memohon tuk kembali
Nanti pasti kau sesali
Setelah dirimu kehilangan aku
Cuman aku yang paling sempurna mencitai kamu
Walau hanya dengan cara yang sederhana
Saatnya kini aku bangkit dari kenyataan dan tak perlu lagi mengungkit, memperbaiki diri serta mempersiapkan hati. Mencoba merelakan meskipun pada akhirnya harus ada yang dikorbankan.
Hari ini tepat sekali dengan kemerdekaan negara Indonesia tercinta, kuucapkan selamat hari kemerdekaan. Dan bagi kalian yang masih di jajah oleh rasa sakit, pengkhianatan, serta rasa yang tak terbalas. Segera berjuang untuk lepas dan berteriaklah AKU INGIN MERDEKA!
Kelvin Junior,
17-08-2018
Baca juga True Story lainya :



Post a Comment