Tulisan Hati
Markas cetar - membagikan sebuah artikel bertemakan tulisan hati yang diharapkan disukai oleh para pembaca selamat membaca dan jangan lupa dibagikan.
Tulisan Hati

Tulisan Hati

Pernah mendengar sebuah pengorbanan? Iya rasa yang ada ketika seseorang sedang mencinta? Tapi sepertinya kata pengorbanan kurang tepat.
Karena apa yang terasa saat ini bukan pengorbanan rasanya, lebih tepatnya sebuah keharusan.
Harus setia, harus sabar, harus bertahan dan harus - harus lainnya yang mungkin tak dapat disebutkan saat ini tapi selalu dirasakan nantinya.
Jika bulan pada malam hari sedang tidak indah, harusnya bersama dengan yang dicinta tak perduli sinar dan bentuknya lagi, bulan itu tetap indah. Matahari yang panas menyegatpun akan mengatakan langit sedang bersahabat.
Itulah rasa yang ada, dan saat ini kamu yang menjadi dasar dari setiap keharusan tersebut.
Mungkin rasanya menyebalkan, kadang kala menemanimu berjam-jam hanya untuk perawatan kuku, atau menemanimu setiap malam bercerita tentang kesehariannya yang kadang tak aku mengerti dan siap menjadi distributor pemasok hal-hal yang menarik saat harimu sedang buruk.
Begitulah sebuah keharusan, berbeda dengan pengorbanan.
Pengorbanan bukannya harus kehilangan sesuatu? Nyatanya sekedar menemani ia bercerita hingga larut malam justru menjadi ajang mengenal lebih dalam setiap hal kecil.
Menemaninya mempercantik dirinya justru membuat mata ini lebih mengerti arti menjadi yang terbaik didepan orang yang tercinta.
Satu lagi pemasok hal-hal unik, sebagian orang mungkin akan menyerah dan juga mengatakan aku bukan buku wikipedia yang dapat selalu mencari hal unik untuk menghilangkan rasa jenuh. Tapi dari sinilah diuji seberapa besarnya kau ingin melihat dia tersenyum bahagia.
Lucu dan terlihat konyol, tapi harus. Bagaimana juga aku menikmatinya dan juga merasakan hal ini yang aku inginkan.
Menjadi alasan untuk terjaga hingga malam berganti pagi, tempat dimana dia dapat berbagi segala keluh-kesahnya, dan sebagai orang yang dapat membuatnya kuat meski seluruh dunia sedang membuatnya lemah.
Dan semua itu bukan pengorbanan terlebih keharusan. Karena cinta apapun yang kau lakukan akan menjadi sebuah keharusan, baik terpaksa ataupun tidak.
Percayalah aku hanya menggodamu jika aku mengatakan "Aku begini hanya terpaksa" Dengan wajah dingin dan serius.
Aku hanya ingin membuatmu mengerti aku lebih memilihmu dari pada apapun, karena kau prioritas dan harusnya itu diutamakan.
Nyatanya aku tetap ada dan selalu menemani bukan? Itu nyata dan bukan ilusi yang sengaja dibuat.
Bukankah tingkah konyolku sengaja hadir untuk mengundang senyum dibibirmu hadir jua?
Dan tak perlu memberikan wajah seperti itu kepadaku, wajah yang menunjukan kau tau bertapa tersiksanya aku ketika menemanimu.
Ini mauku dan juga inginnya aku dari hati.
Bukan yang ku buat sengaja hanya untuk menyenangkanmu sesaat.
Ketahuilah aku tak pernah mencoba menjadi sosok lain agar kau tetap bersamaku, dan aku harap kaupun begitu, agar kita saling mengenal tanpa ada sedikitpun hal yang tertutup dan dirahasiakan.
Ingat hubungan yang berhasil adalah hubunggan dengan komunikasi yang sehat.
Jika pertanyaaamu apakah aku nyaman bersamamu dan dengan segala aktivitasmu yang menyebalkan itu, aku akan menjawab dengan lantang. Aku nyaman, selagi dirimu tertangkap oleh kedua bola matamu.
Yang akan membuatku merasa gelisah atau khawatir saat kau tak bersamaku tapi tidak ada yang menemanimu, aku juga tidak memiliki perasaan yang terpaksa atas semuanya ini. Ini kemauanku.
Sejarah mengatakan sekuatnya batu karang bahkan hancur hanya oleh tetesan air, tau mengapa? Saat ini kau sudah berhasil menjadi air untuk batu karang yang ada dalam diriku. Dan terimakasih untuk itu.
Sengaja ku bungkam tanpa suara dan memilih dicurahkan semua yang aku rasakan disini, agar kau dapat membacanya serta tersenyum manis nanti ketika sudah mengetahuinya. Dari mana tulisan hati ini tercipta hanya kau dan aku serta pemilik semesta ini yang mengetahui.
Kelvin Junior
28-12-2018


Bagus keren
ReplyDelete...selagi dirimu tertangkap oleh kedua bola matamu.
Berarti tahu dirinya sendiri, begitu?