Pertanyaan Setelah Kau Pergi
Markas Cetar - memberikan sebuah sajak kecil berjudul pertanyaan setelah kau pergi yang semoga disukai para pembaca.
Pertanyaan Setelah Kau Pergi
Aku sebagai tempat curhat? Sudah biasa. Aku tak pernah memberikan saran sesuai dengan apa yang orang ingin dengar, justru sebaliknya aku akan memberikan kritik dan saran pedas bagi mereka. Herannya banyak saja dari mereka yang justru semakin senang bercerita.
Malam ini aku sedikit memejamkan mata lebih kuat, mencoba mengatur nafas dan melihat layar gawaiku lebih jelas.
Tampak nama beberapa sahabat mengirimkan pesan dari jauh, awalnya mungkin sekedar sapa dan menanyakan kabar. Tapi biasanya seseorang mencariku ketika mereka memang butuh saran atau tempat untuk didengarkan.
Untuk kali ini mereka datang tidak untuk mendapatkan tempat untuk didengarkan, mereka seperti datang untuk mempertanyakan satu demi satu pertanyaan setelah kau pergi. Dan sepertinya akan mengarahkan diriku berbicara lebih banyak.
Tak apa, aku mengerti. Siapa yang tak ingin mendengarkan cerita tragis miliku? Yang dapat mengubahku dalam hitungan bulan menjadi seorang penulis abal-abal akibat curahan hati yang tak tersiratkan.
Meskipun aku tau mereka perduli, bukan hanya kepo. Aku tetap menjawabnya dengan hati-hati tak ingin kubiarkan mereka mengkhawatirkanku.
Bagaimana hatimu saat ini? Tidakkah kau terluka? Apa kau tak pernah memikirkanya?
Kukatakan padamu, aku bercela, aku juga segumpal daging. Bahkan luka biasa tak seperti ini. Namun sekarang aku baik-baik saja, aku memikirkannya tapi aku sudah berhenti mengutuknya.
Harusnya kau membaca karya dari hati yang patah baru bertanya, tentang hal ini.
Tidak ingin kembali? Atau bagaimana jika dia memohon untuk mendapatkan posisinya kembali? Apa alasanmu harus bertualang jauh? Bukannya sudah saatnya engkau kembali saat ini?
Mungkin pertanyaan ini sangat berlebihan, aku enggan menjawab. Tapi aku mengerti dengan aku menghindar dari segala pertanyaan aku akan terus dihantui rasa tak iklas.
Kukatakan padamu sekali lagi, tak pernah terlintas dalam benak ini agar dia kembali. Bukankah kau sahabat ku lantas kau pasti mengerti bagaimana aku? Tidak suka cari kesempatan, inginya cinta hadir seperti anugerah yang diberikan tuhan. Bukan karena sebuah paksaan atau rasa kasihan.
Ketika dia memohonpun aku sudah tak ingin. Entah, hati ini mengatakan aku tak akan memberikan cela untuk seorang yang tak setia. Terkecuali tuhan membuat jalan yang berbeda nantinya.
Alasan bertualang, aku ingin kedepannya mendapatkan dan tidak ingin kehilangan lagi, tak ingin lagi restu terhalang karena ketakutan orang tua yang anaknya kukasihi tak bisa ku bahagiakan.
Mengurung niatku untuk pulang semata-mata hanya demi diriku, juga demi hati yang sedang berobat jalan.
Akan lebih baik jika kau kembali dari tualangmu, keluarga tanpa ikatan darah sudah menunggu. Apa kau tak merasakan rindunya bersenda gurau dengan mereka? Kurasakan mereka juga merindukanmu.
Mungkin cara pandangku salah atau saat ini aku yang lebih dewasa, pernah mendengar istilah jangan menjadi katak dalam tempurung? Mungkin itu alasannya aku masih berdisini.
Meskipun aku sudah menemukan definisi dari pulang, aku tak bisa menolak kenyataan bahwa ini kenyataan. Pekerjaan, jenuh, pergi jauh dan lain sebagainya adalah rutinitas.
Merindu? Pastinya, siapa yang kuat menahan rasa rindu. Tapi kembali lagi semua harus melihat kenyataan, kondisi dan situasi.
Jika kelak nanti kau bertemu dengannya sekiranya apa yang ingin kau lalukan? Atau jika dia hendak membuat janji denganmu apa kau akan menemuinya?
Untuk saat ini kurasa tak akan bisa, bukankah aku masih bekerja? Mustahil kami bertemu. Namun jika kita berbicara untuk nanti, itu tergantung. Jika aku belum bisa ,takán kupasakan hati ini. Karena Lebih baik menjaga hati sendiri dari pada membiarkannya terluka. Lagi..
Pertemuan aku dan dia lagi hanya akan mengisi rasa penuh derita, terlebih untuk yang masih memiliki rasa. Lebih baik tetap seperti ini. Aku disini dan dia disana.
Bagaimana caranya kau mengiklaskannya? Saat ini kau bukan seperti orang yang aku kenal. Apa kau begitu mudah melupa?
Ayolah kawan, kita hidup dikenyataan bukan pada dunia impian belaka. Yang datang pasti akan pergi, yang bertemu pasti akan berpisah. Jangan terlelap akan dunia ini, buka matamu liat kenyataan.
Jika memang aku bukan inginnya, kurasa masih ada diluar sana hati yang siap aku singgahi. Meskipun aku takut mencoba dengan yang baru pasalnya, aku pernah begitu percaya, sebelum aku begitu tak perduli.
Aku tau, tapi jika sepertimu aku tak tau harus bagaimana. ketika kita bertatap muka pada layar gawai mengapa tak tersirat kesedihan? Justru kau sempat membuat kami semua tertawa terbahak. Begitukah caramu menutupi kesedihan? Meskipun aku mengerti senyummu memiliki banyak makna.
Mencoba tersenyum disaat kesedihan singah, itu hal yang asik. Tertawa saja sampai akhinya kau lupa bahwa sebenarnya tertawamu itu palsu. Kau bisa coba itu ketika kesedihan melanda.
Ketika aku melihat kalian, jika aku bersedih bukankah kalian akan merasakan hal yang sama? Lantas untuk apa. Mungkin kau benar, tapi biarlah. Anggap saja aku seorang aktor yang sedang berakting sampai akhirnya aku memang terbiasa dan lupa bahwa aku sedang berpura-pura.
Kau memang mengerikan, kuat hati tangguh diri. Akan ada saatnya dia akan memikirkan, kau berlian yang pernah dia siakan dengan membuangmu ke kumbangan lumpur, mungkin dia pikir mengurangi nilaimu. Padahal itu tidak.
Aku tak pernah berharap dia menyesal, karena ketika hal itu terjadi yang ada dia akan mencoba kembali dan mengoyah pagar pembatas yang kuat buat. Tapi kau benar kawan, berlian kau buang dimanapun dia tetap bernilai.
Cari yang lebih baik, yang lebih cantik, sexy. Tentunya dia akan menyesal, aku percaya kau bisa. Jangan mengatakan tak bisa, aku tahu kau penakhluk hati.
Tidak, aku tak ingin seperti yang kau sebutkan.
Lantas? Sudah jangan munafik, pulanglah akan banyak hati yang dapat kau singgahi.
Aku tak mencari yang sempurna dari yang sempurna kawan, aku juga berkaca saat ini. Siapa aku? Dan apa pantaskah aku?
Sepertinya luka kemarin membuatmu lebih pesimis?
Kau salah, untuk orang yang pernah merasakan sebuah pengkhianatan. Yang dicari bukan cantik parasnya, elok dipandang ataupun membuat gairah selalu mengebu. Tapi satu hal, mencari yang diberikan kepercayaan untuk menitip hati yang pernah terluka.
Wow, super sekali orang sakit hati. Seperti inikah perkataan setiap orang yang sakit hati? Awas nanti jika hatimu sudah pulih, perkataanmu barusan tidak lagi berlaku.
Tidak kawan, mencari yang cantik akan sulit dijaga. Mencari yang baik tentu pasti memiliki sisi buruknya juga, mencari yang sexy aku kurang soal materi.
Bagaimana yang kau inginkan? Sendiri atau memang kau sudah tak menyukai lawan jenis? Sadar kawan jangan sampai seperti itu haha
Aku hanya ingin menjadi yang pantas untuk seseorang yang memang pantas juga, jika dia cantik itu nasib, jika memang dia baik itu karma dan jika memang sexy kurasa itu bonus.
Akhinya kuakhir perbincangan tersebut, menurutku itu sudah terlalu larut malam. Pasalnya besok ada rutinitas yang harus ku kerjakan. Setelah memejamkan mata aku tersenyum kecil. Entah, kadang mendapatkan kebahagiaan tidak serumit yang kita bayangkan. Seperti ini pertanyaan setelah kau pergi dari mereka, cukup membuat aku mengerti arti dari keperdulian.
Banyak yang dapat memperhatikanmu dengan jelas, belum tentu mereka benar-benar mengerti. Justru yang terlihat cuek bisa jadi dia yang paling perduli. Terimakasih juga sudah memberikan penghiburan.
Kelvin Junior
13-08-2018
Baca juga Curhatan :
Pertanyaan Setelah Kau Pergi

Pertanyaan Setelah Kau Pergi
Aku sebagai tempat curhat? Sudah biasa. Aku tak pernah memberikan saran sesuai dengan apa yang orang ingin dengar, justru sebaliknya aku akan memberikan kritik dan saran pedas bagi mereka. Herannya banyak saja dari mereka yang justru semakin senang bercerita.
Malam ini aku sedikit memejamkan mata lebih kuat, mencoba mengatur nafas dan melihat layar gawaiku lebih jelas.
Tampak nama beberapa sahabat mengirimkan pesan dari jauh, awalnya mungkin sekedar sapa dan menanyakan kabar. Tapi biasanya seseorang mencariku ketika mereka memang butuh saran atau tempat untuk didengarkan.
Untuk kali ini mereka datang tidak untuk mendapatkan tempat untuk didengarkan, mereka seperti datang untuk mempertanyakan satu demi satu pertanyaan setelah kau pergi. Dan sepertinya akan mengarahkan diriku berbicara lebih banyak.
Tak apa, aku mengerti. Siapa yang tak ingin mendengarkan cerita tragis miliku? Yang dapat mengubahku dalam hitungan bulan menjadi seorang penulis abal-abal akibat curahan hati yang tak tersiratkan.
Meskipun aku tau mereka perduli, bukan hanya kepo. Aku tetap menjawabnya dengan hati-hati tak ingin kubiarkan mereka mengkhawatirkanku.
Bagaimana hatimu saat ini? Tidakkah kau terluka? Apa kau tak pernah memikirkanya?
Kukatakan padamu, aku bercela, aku juga segumpal daging. Bahkan luka biasa tak seperti ini. Namun sekarang aku baik-baik saja, aku memikirkannya tapi aku sudah berhenti mengutuknya.
Harusnya kau membaca karya dari hati yang patah baru bertanya, tentang hal ini.
Tidak ingin kembali? Atau bagaimana jika dia memohon untuk mendapatkan posisinya kembali? Apa alasanmu harus bertualang jauh? Bukannya sudah saatnya engkau kembali saat ini?
Mungkin pertanyaan ini sangat berlebihan, aku enggan menjawab. Tapi aku mengerti dengan aku menghindar dari segala pertanyaan aku akan terus dihantui rasa tak iklas.
Kukatakan padamu sekali lagi, tak pernah terlintas dalam benak ini agar dia kembali. Bukankah kau sahabat ku lantas kau pasti mengerti bagaimana aku? Tidak suka cari kesempatan, inginya cinta hadir seperti anugerah yang diberikan tuhan. Bukan karena sebuah paksaan atau rasa kasihan.
Ketika dia memohonpun aku sudah tak ingin. Entah, hati ini mengatakan aku tak akan memberikan cela untuk seorang yang tak setia. Terkecuali tuhan membuat jalan yang berbeda nantinya.
Alasan bertualang, aku ingin kedepannya mendapatkan dan tidak ingin kehilangan lagi, tak ingin lagi restu terhalang karena ketakutan orang tua yang anaknya kukasihi tak bisa ku bahagiakan.
Mengurung niatku untuk pulang semata-mata hanya demi diriku, juga demi hati yang sedang berobat jalan.
Akan lebih baik jika kau kembali dari tualangmu, keluarga tanpa ikatan darah sudah menunggu. Apa kau tak merasakan rindunya bersenda gurau dengan mereka? Kurasakan mereka juga merindukanmu.
Mungkin cara pandangku salah atau saat ini aku yang lebih dewasa, pernah mendengar istilah jangan menjadi katak dalam tempurung? Mungkin itu alasannya aku masih berdisini.
Meskipun aku sudah menemukan definisi dari pulang, aku tak bisa menolak kenyataan bahwa ini kenyataan. Pekerjaan, jenuh, pergi jauh dan lain sebagainya adalah rutinitas.
Merindu? Pastinya, siapa yang kuat menahan rasa rindu. Tapi kembali lagi semua harus melihat kenyataan, kondisi dan situasi.
Jika kelak nanti kau bertemu dengannya sekiranya apa yang ingin kau lalukan? Atau jika dia hendak membuat janji denganmu apa kau akan menemuinya?
Untuk saat ini kurasa tak akan bisa, bukankah aku masih bekerja? Mustahil kami bertemu. Namun jika kita berbicara untuk nanti, itu tergantung. Jika aku belum bisa ,takán kupasakan hati ini. Karena Lebih baik menjaga hati sendiri dari pada membiarkannya terluka. Lagi..
Pertemuan aku dan dia lagi hanya akan mengisi rasa penuh derita, terlebih untuk yang masih memiliki rasa. Lebih baik tetap seperti ini. Aku disini dan dia disana.
Bagaimana caranya kau mengiklaskannya? Saat ini kau bukan seperti orang yang aku kenal. Apa kau begitu mudah melupa?
Ayolah kawan, kita hidup dikenyataan bukan pada dunia impian belaka. Yang datang pasti akan pergi, yang bertemu pasti akan berpisah. Jangan terlelap akan dunia ini, buka matamu liat kenyataan.
Jika memang aku bukan inginnya, kurasa masih ada diluar sana hati yang siap aku singgahi. Meskipun aku takut mencoba dengan yang baru pasalnya, aku pernah begitu percaya, sebelum aku begitu tak perduli.
Aku tau, tapi jika sepertimu aku tak tau harus bagaimana. ketika kita bertatap muka pada layar gawai mengapa tak tersirat kesedihan? Justru kau sempat membuat kami semua tertawa terbahak. Begitukah caramu menutupi kesedihan? Meskipun aku mengerti senyummu memiliki banyak makna.
Mencoba tersenyum disaat kesedihan singah, itu hal yang asik. Tertawa saja sampai akhinya kau lupa bahwa sebenarnya tertawamu itu palsu. Kau bisa coba itu ketika kesedihan melanda.
Ketika aku melihat kalian, jika aku bersedih bukankah kalian akan merasakan hal yang sama? Lantas untuk apa. Mungkin kau benar, tapi biarlah. Anggap saja aku seorang aktor yang sedang berakting sampai akhirnya aku memang terbiasa dan lupa bahwa aku sedang berpura-pura.
Kau memang mengerikan, kuat hati tangguh diri. Akan ada saatnya dia akan memikirkan, kau berlian yang pernah dia siakan dengan membuangmu ke kumbangan lumpur, mungkin dia pikir mengurangi nilaimu. Padahal itu tidak.
Aku tak pernah berharap dia menyesal, karena ketika hal itu terjadi yang ada dia akan mencoba kembali dan mengoyah pagar pembatas yang kuat buat. Tapi kau benar kawan, berlian kau buang dimanapun dia tetap bernilai.
Cari yang lebih baik, yang lebih cantik, sexy. Tentunya dia akan menyesal, aku percaya kau bisa. Jangan mengatakan tak bisa, aku tahu kau penakhluk hati.
Tidak, aku tak ingin seperti yang kau sebutkan.
Lantas? Sudah jangan munafik, pulanglah akan banyak hati yang dapat kau singgahi.
Aku tak mencari yang sempurna dari yang sempurna kawan, aku juga berkaca saat ini. Siapa aku? Dan apa pantaskah aku?
Sepertinya luka kemarin membuatmu lebih pesimis?
Kau salah, untuk orang yang pernah merasakan sebuah pengkhianatan. Yang dicari bukan cantik parasnya, elok dipandang ataupun membuat gairah selalu mengebu. Tapi satu hal, mencari yang diberikan kepercayaan untuk menitip hati yang pernah terluka.
Wow, super sekali orang sakit hati. Seperti inikah perkataan setiap orang yang sakit hati? Awas nanti jika hatimu sudah pulih, perkataanmu barusan tidak lagi berlaku.
Tidak kawan, mencari yang cantik akan sulit dijaga. Mencari yang baik tentu pasti memiliki sisi buruknya juga, mencari yang sexy aku kurang soal materi.
Bagaimana yang kau inginkan? Sendiri atau memang kau sudah tak menyukai lawan jenis? Sadar kawan jangan sampai seperti itu haha
Aku hanya ingin menjadi yang pantas untuk seseorang yang memang pantas juga, jika dia cantik itu nasib, jika memang dia baik itu karma dan jika memang sexy kurasa itu bonus.
Akhinya kuakhir perbincangan tersebut, menurutku itu sudah terlalu larut malam. Pasalnya besok ada rutinitas yang harus ku kerjakan. Setelah memejamkan mata aku tersenyum kecil. Entah, kadang mendapatkan kebahagiaan tidak serumit yang kita bayangkan. Seperti ini pertanyaan setelah kau pergi dari mereka, cukup membuat aku mengerti arti dari keperdulian.
Banyak yang dapat memperhatikanmu dengan jelas, belum tentu mereka benar-benar mengerti. Justru yang terlihat cuek bisa jadi dia yang paling perduli. Terimakasih juga sudah memberikan penghiburan.
Kelvin Junior
13-08-2018
Baca juga Curhatan :


Post a Comment