Makhluk bertanya
Sepertinya fase kehidupan menjadi dewasa itu benar-benar sulit, banyak hal yang kita tidak ketahui menjadi kita ketahui, yang sudah kita ketahui nyatanya tidak benar-benar diketahui.
Rasanya begitu sulit menjalani hari setelah kita lepas dari fase remaja ke dunia nyata masayarakat luas, ada saja rintangannya, levelnya, kastanya, kesulitannya, batasannya dan masih banyak lagi yang menjadikan kehidupan menjadi rumit.
Tapi pernahkah kita berpikir sejenak apakah yang kita lakukan saat ini? Bertahan hidup atau berjuang untuk hidup?
Hal ini kadang membuatku juga bertanya mengapa persoalan hidup kadang seperti ombak dilautan yang selalu datang ketepian pantai lalu kembali lagi kelautan, berulang-ulang dan kita tidak pernah mengetahui titik pemberhentiannya.
Terkadang aku berpikir bagaimana rasanya orang yang hidupnya lebih lama dari pada masa umurku. apa mereka pada fasenya juga merasakan apa yang aku rasakan? Apakah jawabannya, berjuang demi sebuah hidup?
Mungkin lebih dominan kepada dihidup ini apa kita harus berjuang? Setiap malam inilah isi dari kepalaku, lagi-lagi otak dan hati tidak akur.
Entahlah tapi sejujurnya ketika aku masih diasuhan Ibu, anganku adalah bagaimana aku membahagiakannya, namun setelah aku dewasa tidak hanya orang lain yang aku harus sisihkan bagian bahagianya.
Ternyata aku juga butuh bahagia, catat dengan baik BUTUH BAHAGIA. Semua orang dapat berkata dengan mudah aku ingin bahagia, tapi yang ada didepan kadang memaksa kita untuk bungkam, karena kita ini hanya ciptaan -Nya tidaklah ada satupun dari kita yang luput dari ketidak sempurnaan dan juga keadaan.
Mampu membahagiakan tapi tidak dapat bagian dibahagiakan, tidak mampu membahagiakan tapi dapat bagian dibahagiakan. Ingin berkata Tuhan tidak adil tapi perkataan sebelumnya menyadarkan bahwasannya Tuhan adil dalam pandangannya, aku saja yang tidak bisa menerima semua pandangan itu.
Ribuan pertanyaan datang begitu saja, aku yang terlalu ingin didahulukan harapannya atau memang aku yang tidak pernah masuk dalam daftar harapan? Pertanyaan dan selalu pertanyaan, namun jawabannya tidak pernah terlihat dan inilah awal titik kesulitannya.
Karena setiap pertanyaan kehidupan jawabannya juga ada dalam kehidupan, yang artinya apa? Kita harus selalu menjalani kehidupan agar menemukan jawabannya, hingga mungkin pada akhirnya yang Esa kembali menempatkan kita pada sisi-Nya.
Hidup tidak adil dari cara pandang kita yang mengalami ketidak-adilan, tapi hidup ini adil dari cara pandang mereka yang mendapatkan keadilan.
Semua terlihat seperti sudah memiliki tatanannya, rapih dan systematis bagi yang punya jatah. Duka, lara, dan irasional bagi yang mereka yang hanya merasakan getah.
Seperti inikah problematika kehidupan sesungguhnya? Apakah bisa kita terlepas dari belenggu kehidupan yang rasanya selalu sudah memiliki jalan ceritanya? Atau kita hanya selalu seperti ini sampai nanti akhirnya kita menjadi usang, tidak berdaya dan renta.
Aku memang tidak baik baik saja, namun entah kenapa aku tidak bisa lari dari roda kehidupan ini. Ada yang berkata ini adalah proses, tapi setauku proses memiliki awal dan akhir sementara selama ini yang ditemui olehku dalam setiap pintu kehidupan hanya awal tanpa ada terlihat sebuah garis akhir.
Namun seperti inilah manusia pada zaman sekarang, katanya patuh pada otoritas, tapi sebenarnya kita hanya tunduk pada pemberi kertas.


Post a Comment