Pensil Biru
Markas Cetar - Cerita ini berjudul Pensil Biru ditulis berdasarkan apa yang ada dalam pemikiran seorang anak yang dulunya ganteng , bawel , lucu dan lugu.
Pensil Biru
Sedikit demi sedikit tangan anak tersebut mencoba mengoreskan tinta diatas kertas putih yang mana membuatnya teringat kisah silam, entah apa yang dia rasakan saat ini segalanya terasa begitu membingungkan.
"Harus mulai dari mana aku ? menuliskan semuanya begitu berat mengingatnya apa lagi teramat pahit" ucapnya dalam hati,
Dengan sedikit pemanasan ia menarik nafas sedalam-dalamnya dan mencoba melemparkan senyum yang entah kepada siapa dituju dia kembali mengores tinta tersebut.
Saat indah dalam hidup ketika aku berhasil menaiki sepeda hasil dari ulang tahunku yang ke 5 , dari Ayah. Seakan-akan tak ada beban dihati ketika ku naiki dan ku kayuh benda yang memiliki dua Roda didepan dan dibekang itu.
Aku adalah seorang anak tunggal dari pasangan pemilik toko buku , meskipun demikian aku sangat tidak suka membaca waktu kecil jangankan membaca komik naruto ataupun kartun lain saja tidak penah kusentuh.
Ku akui aku begitu tidak menyukai hal tersebut , lain halnya dengan sekarang justru aku suka membaca disebuah situs yang dapat dilihat di lapto maupun pc kesayanganku. Mungkikah dikarenakan dulu tidak ada komputer yang ada hanya majalah dan buku sehingga aku tak suka membaca ?
"Oza ... pensil ini buat kamu dan bawa kesekolah awas kalau hilang , ibu baru dapat dari luar negeri kemarin teman ibu pergi ke luar negeri jadi ibu titip pensil warna biru kesukaan mu." kata ibu sembari mengantarkan aku ke jemputan sekolah.
Dulu ketika itu aku sangat senang mendapatkan hadiah tersebut mungkin kalau sekarang rasanya seperti memenangkan lotre angka dengan jumlah yang besar.
Saat itu kupandangi saja pensil biru itu dengan lugu , entah apa yang membuatku binggung hari itu warnanya ? bentuknya ? atau namanya ?
Tapi ini mirip seperti pensil biru yang waktu itu aku minta di pasar malam kepada ayah.
Tak kuhiraukan dari mana asalnya benda ini yang kutau ini ada benda berharga yang aku miliki sekarang.
Sesampainya disekolah tak lupa dalam mobil jemputan tersebut aku memasukan pensil biru kesayangku itu kedalam kotak pensil spiderman miliku.
Seingatku , kutaruh itu dengan benar dan memang disitus tempatnya bahkan sampai sekarang aku masih binggung kenapa bisa pensil itu kembali ketangan ibu.
Ketika waktunya pulang , aku dijemput oleh kak wisnu tak lupa dia memberikan aku sebuah permen agar aku mau cepat pulang dan tidak tertidur ketika diboncengnya dimotor.
Kak Wisnu adalah salah satu orang yang begitu dekat dengan keluarga kami meskipun bukan keluarga kami.
Ayah menjadikannya orang kepercayaan ditoko , ayah juga sayang kepadanya seperti anak sendiri yang selalu dikatakan ayah adalah dia adalah kakakmu.
Akupun selalu berlaku menjadi seorang adik yang baik meskipun kadang membuat jengkel kak Wisnu tidak pernah mencoba mencubit atau memarahiku.
Berbeda dengan ibu , ibu sering memukul aku dengan gantungan baju ataupun dengan rotan bahkan terkadang sampai merah lebam.
Ayah sendiri sangat cuek kepadaku , hanya saja apa yang aku minta dan aku inginkan selalu dibelikan terkecuali pensil biru yang ada di pasar malam kemarin.
"Oza... coba ibu mau lihat mana pensil yang ibu kasih ke kamu ?" tanya ibu dengan spontan.
Aku tak menghiraukannya justru dengan cepat aku membuka sepatu dan lari ke dalam rumah.
"Oza kamu diajak ngomong sama ibu kok gitu , dijawab dong masa harus dipukul ibu dulu baru mau jawab . Sekarang ikut kakak kedepan " dibawanya aku ke depan oleh kak wisnu membuat jantungku berdebar.
"Pensil Oza hilang" aku membuat pernyataan tanpa sebab.
"Ibu kan sudah bilang , kalau mau main jangan bawa-bawa pensil emang kamu bisa beli lagi kalau pensilnya hilang ? Udah berapa banyak ibu belikan setiap hari bawa pensil selalu hilang " kata ibu dengan mulai mencubit tanganku.
Diumur yang masih terhitung tangan dan dalam kondisi seperti itu aku hanya mengetahui bahwasannya ibu adalah orang yang jahat , pelit dan suka memukuliku.
Mungkin sulit menerima kenyataan untuk ku sekarang karena usia yang sudah mendekati kepala 2 namun aku sudah tak dapat melihat ibu kembali.
Sore itu aku terakhir kali aku menerima ocehan ibu karena kelalaianku , terakhir juga kurasakan jari ibu yang mencubit tanganku.
Hari itu tiba-tiba berubah , baru saja aku mengeluarkan pensil dan memulai menulis catatan yang diberikan guru.
Aku dipanggil keruang guru oleh kepala sekolah , aku melihat Kak Wisnu dengan mata merah seperti orang sehabis menangis.
"Kak Wisnu ngapain ke sekolah kan Oza belum pulang sekolah" tanyaku dengan heran
"Ayo kita pulang , buat liat ibu soalnya itu udah sembuh dan ga sakit lagi ibu udah disurga". jawabnya sambil tersedu-sedu.
Aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kak Wisnu yang aku tau , ibu memang suka bilang kepadaku untuk tidak meminum apa yang sudah diminum ibu.
Juga itu pernah satu kali menamparku karena aku menggunakan sendok yang sudah ibu gunakan karena aku malas mengambilnya.
Ibu juga meminum obat ketika didapur , tapi ibu selama ini terlihat sehat-sehat saja bahkan bisa memarahiku sepanjang hari.
Semua hal ini membuat ku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
Sesampainya dirumah aku melihat banyak sekali orang yang datang kerumah dengan bendera kuning didekat toko ayah.
Aku dengan cepat masuk kerumah dan saat itu juga aku melihat ibu sedang tertidur dengan tangan terlipat serta bibirnya yang mulai pucat.
Saat itu Ayah orang yang paling kuat, dia pun menangis sejadi-jadinya didepan ibu yang sedang tertidur.
Aku yang tak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa menangis melihat ayah menangis , namun ada apa dengan ibu mengapa ibu hanya diam ?
Biasanya ibu akan memarahiku jika aku menangis entah hal sepele ataupun ketika aku jatuh mengendari sepeda hadiah ulang tahunku yang ke 5.
"Rosss , kenapa ? ... Kenapa Ross ... Ya tuhan Ross.... Aku mohon Ross....."
"Haruskah Secepat Ross..... Bagaimana dengan anak kita Ros , bagun Ros Bagun... "
"Aku belum siap mengurus Oza sendirian Ros.. , kenapa tidak kau bawa saja aku bersamamu..."
" Bawa saja aku dan Oza bersamamu Ross ... Bawa sajaa....."
Suara itu terdengar jelas ditelinga kecilku , aku tau bahwa ayah begitu mencintai ibu dan begitu tak rela ibu dipanggil sang pencipta.
Banyak sekali orang yang membantu menenangkan amarah bercampur sedih milik ayah , begitu pula aku hanya terduduk diam dan menangis.
Semua tidak ku mengerti ayah yang sangat histeris juga Kak Wisnya yang tak berhenti menangis dan memeluk ku sambil berkata ibu sudah tiada.
Hari itu alam meresmikan aku menjadi seorang anak piatu , dan tak akan ada lagi orang yang memarahiku ketika ku hilangkan pelaratan sekolahku.
Tak kuasa diri menahan air mata ketika merangkai kata di kertas putih ini.
Hari ini tepat kematian ibu yang ke 20 tahun , aku masih mencoba mengigat setiap kecil kenangan bersama ibu.
Serta Pensil biru pemberian terakhir ibu untuku anaknya.
Pensil Biru

Pensil Biru
Sedikit demi sedikit tangan anak tersebut mencoba mengoreskan tinta diatas kertas putih yang mana membuatnya teringat kisah silam, entah apa yang dia rasakan saat ini segalanya terasa begitu membingungkan.
"Harus mulai dari mana aku ? menuliskan semuanya begitu berat mengingatnya apa lagi teramat pahit" ucapnya dalam hati,
Dengan sedikit pemanasan ia menarik nafas sedalam-dalamnya dan mencoba melemparkan senyum yang entah kepada siapa dituju dia kembali mengores tinta tersebut.
Saat indah dalam hidup ketika aku berhasil menaiki sepeda hasil dari ulang tahunku yang ke 5 , dari Ayah. Seakan-akan tak ada beban dihati ketika ku naiki dan ku kayuh benda yang memiliki dua Roda didepan dan dibekang itu.
Aku adalah seorang anak tunggal dari pasangan pemilik toko buku , meskipun demikian aku sangat tidak suka membaca waktu kecil jangankan membaca komik naruto ataupun kartun lain saja tidak penah kusentuh.
Ku akui aku begitu tidak menyukai hal tersebut , lain halnya dengan sekarang justru aku suka membaca disebuah situs yang dapat dilihat di lapto maupun pc kesayanganku. Mungkikah dikarenakan dulu tidak ada komputer yang ada hanya majalah dan buku sehingga aku tak suka membaca ?
"Oza ... pensil ini buat kamu dan bawa kesekolah awas kalau hilang , ibu baru dapat dari luar negeri kemarin teman ibu pergi ke luar negeri jadi ibu titip pensil warna biru kesukaan mu." kata ibu sembari mengantarkan aku ke jemputan sekolah.
Dulu ketika itu aku sangat senang mendapatkan hadiah tersebut mungkin kalau sekarang rasanya seperti memenangkan lotre angka dengan jumlah yang besar.
Saat itu kupandangi saja pensil biru itu dengan lugu , entah apa yang membuatku binggung hari itu warnanya ? bentuknya ? atau namanya ?
Tapi ini mirip seperti pensil biru yang waktu itu aku minta di pasar malam kepada ayah.
Tak kuhiraukan dari mana asalnya benda ini yang kutau ini ada benda berharga yang aku miliki sekarang.
Sesampainya disekolah tak lupa dalam mobil jemputan tersebut aku memasukan pensil biru kesayangku itu kedalam kotak pensil spiderman miliku.
Seingatku , kutaruh itu dengan benar dan memang disitus tempatnya bahkan sampai sekarang aku masih binggung kenapa bisa pensil itu kembali ketangan ibu.
Ketika waktunya pulang , aku dijemput oleh kak wisnu tak lupa dia memberikan aku sebuah permen agar aku mau cepat pulang dan tidak tertidur ketika diboncengnya dimotor.
Kak Wisnu adalah salah satu orang yang begitu dekat dengan keluarga kami meskipun bukan keluarga kami.
Ayah menjadikannya orang kepercayaan ditoko , ayah juga sayang kepadanya seperti anak sendiri yang selalu dikatakan ayah adalah dia adalah kakakmu.
Akupun selalu berlaku menjadi seorang adik yang baik meskipun kadang membuat jengkel kak Wisnu tidak pernah mencoba mencubit atau memarahiku.
Berbeda dengan ibu , ibu sering memukul aku dengan gantungan baju ataupun dengan rotan bahkan terkadang sampai merah lebam.
Ayah sendiri sangat cuek kepadaku , hanya saja apa yang aku minta dan aku inginkan selalu dibelikan terkecuali pensil biru yang ada di pasar malam kemarin.
"Oza... coba ibu mau lihat mana pensil yang ibu kasih ke kamu ?" tanya ibu dengan spontan.
Aku tak menghiraukannya justru dengan cepat aku membuka sepatu dan lari ke dalam rumah.
"Oza kamu diajak ngomong sama ibu kok gitu , dijawab dong masa harus dipukul ibu dulu baru mau jawab . Sekarang ikut kakak kedepan " dibawanya aku ke depan oleh kak wisnu membuat jantungku berdebar.
"Pensil Oza hilang" aku membuat pernyataan tanpa sebab.
"Ibu kan sudah bilang , kalau mau main jangan bawa-bawa pensil emang kamu bisa beli lagi kalau pensilnya hilang ? Udah berapa banyak ibu belikan setiap hari bawa pensil selalu hilang " kata ibu dengan mulai mencubit tanganku.
Diumur yang masih terhitung tangan dan dalam kondisi seperti itu aku hanya mengetahui bahwasannya ibu adalah orang yang jahat , pelit dan suka memukuliku.
Mungkin sulit menerima kenyataan untuk ku sekarang karena usia yang sudah mendekati kepala 2 namun aku sudah tak dapat melihat ibu kembali.
Sore itu aku terakhir kali aku menerima ocehan ibu karena kelalaianku , terakhir juga kurasakan jari ibu yang mencubit tanganku.
Hari itu tiba-tiba berubah , baru saja aku mengeluarkan pensil dan memulai menulis catatan yang diberikan guru.
Aku dipanggil keruang guru oleh kepala sekolah , aku melihat Kak Wisnu dengan mata merah seperti orang sehabis menangis.
"Kak Wisnu ngapain ke sekolah kan Oza belum pulang sekolah" tanyaku dengan heran
"Ayo kita pulang , buat liat ibu soalnya itu udah sembuh dan ga sakit lagi ibu udah disurga". jawabnya sambil tersedu-sedu.
Aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kak Wisnu yang aku tau , ibu memang suka bilang kepadaku untuk tidak meminum apa yang sudah diminum ibu.
Juga itu pernah satu kali menamparku karena aku menggunakan sendok yang sudah ibu gunakan karena aku malas mengambilnya.
Ibu juga meminum obat ketika didapur , tapi ibu selama ini terlihat sehat-sehat saja bahkan bisa memarahiku sepanjang hari.
Semua hal ini membuat ku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
Sesampainya dirumah aku melihat banyak sekali orang yang datang kerumah dengan bendera kuning didekat toko ayah.
Aku dengan cepat masuk kerumah dan saat itu juga aku melihat ibu sedang tertidur dengan tangan terlipat serta bibirnya yang mulai pucat.
Saat itu Ayah orang yang paling kuat, dia pun menangis sejadi-jadinya didepan ibu yang sedang tertidur.
Aku yang tak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa menangis melihat ayah menangis , namun ada apa dengan ibu mengapa ibu hanya diam ?
Biasanya ibu akan memarahiku jika aku menangis entah hal sepele ataupun ketika aku jatuh mengendari sepeda hadiah ulang tahunku yang ke 5.
"Rosss , kenapa ? ... Kenapa Ross ... Ya tuhan Ross.... Aku mohon Ross....."
"Haruskah Secepat Ross..... Bagaimana dengan anak kita Ros , bagun Ros Bagun... "
"Aku belum siap mengurus Oza sendirian Ros.. , kenapa tidak kau bawa saja aku bersamamu..."
" Bawa saja aku dan Oza bersamamu Ross ... Bawa sajaa....."
Suara itu terdengar jelas ditelinga kecilku , aku tau bahwa ayah begitu mencintai ibu dan begitu tak rela ibu dipanggil sang pencipta.
Banyak sekali orang yang membantu menenangkan amarah bercampur sedih milik ayah , begitu pula aku hanya terduduk diam dan menangis.
Semua tidak ku mengerti ayah yang sangat histeris juga Kak Wisnya yang tak berhenti menangis dan memeluk ku sambil berkata ibu sudah tiada.
Hari itu alam meresmikan aku menjadi seorang anak piatu , dan tak akan ada lagi orang yang memarahiku ketika ku hilangkan pelaratan sekolahku.
Tak kuasa diri menahan air mata ketika merangkai kata di kertas putih ini.
Hari ini tepat kematian ibu yang ke 20 tahun , aku masih mencoba mengigat setiap kecil kenangan bersama ibu.
Serta Pensil biru pemberian terakhir ibu untuku anaknya.


keren nih
ReplyDeletekunjungi juga https://delapanmania.blogspot.com
Udah ane kunjungi mas , makasih juga atas kunjunganya blog agan ringan
DeleteMenyentuh sekali..
ReplyDeleteKeren..