Akhir Dari Sebuah Awal
Markas Cetar - kali ini curhatan Akhir Dari Sebuah Awal semoga para pembaca menyukai sebuah goresan didalam artikel ini.
Akhir Dari Sebuah Awal
Sebenarnya mengakhiri apa yang sudah pernah dimulai tidaklah mudah, meskipun terkadang banyak faktor yang mendukung untuk mengakhiri tapi sebenarnya akan ada faktor lainnya juga dapat merubah pola berpikir untuk bertahan.
Tapi sayangnya kali ini aku menuliskan semua ini dengan amarah dan kekecewaan yang berkecamuk menjadi satu, meski katanya kita tidak bisa menyalahkan seseorang atas apa yang sudah kita berikan entah itu terbaik ataupun biasa saja hasilnya.
Pernahkah kau berpikir aku melakukan semua yang terbaik meskipun tak pernah kau minta, agar apa? Agar aku terlihat pantas untuk menjadi seseorang yang dapat menemanimu melewati setiap tangga kehidupan dari titik terendah hingga sampai pada titik tertinggi.
Kembali lagi jika dikaitkan dengan takdir, sepertinya kita memang tak berjodoh. Sebaik apapun aku melakukannya akan selalu dianggap membangkang dan lumrah, karena aku akan diupah berdasarkan keluh yang aku berikan.
Bukan aku mengeluh atau tak tahu diri, harusnya kata tersebut aku kembalikan kepadamu bukan? Sedari awal bukankah kau pun sudah tau akan terjadi kembali hal seperti ini? Aku yang memilih akhir dari sebuah awal.
Jika bukan karena mata pancingmu yang mengenai diriku sepertinya aku sudah tidak berada disampingmu dari ratusan hari yang lalu, kau beri segalanya harapan, janji dan mimpi-mimpi indah.
Nihil kenyataan yang terjadi, ketika aku sudah mengatakan aku akan membuat sebuah akhir, kau mengatakan bersedih? Aku orang pertama yang begitu sakit ketika kau mengatakan hal tersebut.
Biar jika nantinya orang akan menilai aku sebagai orang yang tidak dapat menyuarakan apa yang ada dalam hatiku dan hanya melampiaskannya melalui ketikan kecil dalam blog ini. Tidak masalah aku mengalah, bukan kalah melainkan hanya menunggu waktu sampai saatnya tiba.
Tidaklah perlu kau takut, aku diajarkan untuk tidak membalas sesuatu yang diberikan kepadaku dengan cara tidak sehat apalagi buruk. Tapi ingatlah tidak selamanya macan kecil selalu meminum susu, karena nantinya ia akan memburu mangsa.
Memang aku tidak pernah bermain-main dengan apa yang aku ucapkan, setelah lama bersamaku tidak adakah kau mengenali aku? Bukankah aku juga membantumu mengatasi masalah yang harusnya diluar kemampuan diriku? Sadarlah sebelum terlambat dan kau sudah tidak dapat berucap.
Bila mana kau memang ingat sudah berapa kali engkau membohongi aku dan yang lainya? Berapa kali aku bertindak seolah tidak ada sesuatu yang harus aku tagih? Bukankah sebagai orang kepercayaanmu aku dianggap melakukan hal yang sama dengan apa yang kau pikirkan?
Aku berat menanggung semua hal yang tak pernah aku lakukan, aku juga jijik pada setiap hal yang diperintahkan. Taukah itu adalah salah satu alasan mengapa aku akhiri semua ini? Kau tau apa, bukankah hanya uang yang kau sembah saat ini.
Perdulilah kepada dirimu, orang yang kau anggap teman itu tidak akan pernah memperdulikanmu. Caramu memperlakukan mereka dan membeli pertemanan mereka akan menyakitimu nanti kelak, bukan aku mengutuk tapi fakta yang membuat ini tergambarkan.
Sakit kedua, dimana saat kau mengatakan orang yang pernah berusaha bersamamu tidaklah penting. Uang adalah tempat dimana kau memiliki kerabat dekat, jika kita hidup berlimpah uang maka kerabat akan banyak.
Cukup lama aku berpikir keras, apakah benar yang kau maksud adalah orang yang aku anggap sebagai keluarga? Haha... tidak ada bukti lain yang tidak mengarah kepada orang yang aku maksud.
"Hanya ketika kita memiliki uang akan dianggap keluarga, ketika meminjam apa kita tau mereka dapat mengembalikannya? Teman baik ataupun bukan, jika dibantu saat memerlukan bantuan apa dia akan mengantinya nanti? Ini masalah uang". Masih tergiang kata tersebut dalam sanubariku.
Aku tau yang kau maksud, tapi aku mengetahui jelas bagaimana perjuangannya orang tersebut membantumu. Kejam... Uang memang dapat mengubah seseorang.
Tak mengapa aku tak memiliki uang dalam jumlah yang banyak, setidaknya aku akan hidup dengan akal sehat dan juga hati yang bahagia.
Bukankah ketika menjadi mayatpun kita tetap membutuhkan orang untuk menguburkannya kedalam tanah kembali? Atau kau terlalu banyak uang hingga dapat membayar malaikat untuk langsung membawa jasadmu ke neraka.
Memang jika persoalan uang agak sulit menjabarkannya, aku tidak masalah. Beberapa kali ujian yang aku berikan kepadamu sepertinya sudah menunjukan hasil yang tidak aku harapkan, itu juga tidak menjadi sebuah alasan.
Tapi jika kau bisa melupakan seseorang yang begitu berjasa padamu dan memberikannya gelar hal buruk, apakah aku harus berdiri tegak disampingmu dan bertahan? Bagaimana jika aku tak berada disisimu nanti? Akukah nantinya akan dilupakan dan mendapatkan gelar buruk itu? Terimakasih banyak.
Entah berapa banyak sakit yang aku rasakan, aku simpan dan aku lampiaskan keberbagai hal. Namun rasanya ini sudah puncaknya, jika batas sabar dibuat oleh manusia itu sendiri ya aku mengaku ini sudah habis masa sabarku.
Kedepannya biar orang lain yang akan termakan berbagai omongan manismu, dan semua cerita perjuanganmu yang entah benar atau tidak kenyataannya. Intinya aku juga mengetahuinya dari berbagai pihak meskipun ceritanya bertolak belakang dengan apa yang kau katakan.
Biar orang lain saja yang menjadi setara denganmu, aku cukup dapat hidup tertawa sambil meminum kopi dan sebatang rokok saja ketika aku dirumah. Tidak akan ada lagi kata-kata yang terlontar dan harus ku tarik kembali sesuai perintahmu, dan jujur aku menunggu saatnya tiba aku yang benar atas segala ucapanku.
Jangan kau sedih...
Baca juga :
Kelvin Junior
11-11-2019
Akhir Dari Sebuah Awal

Akhir Dari Sebuah Awal
Sebenarnya mengakhiri apa yang sudah pernah dimulai tidaklah mudah, meskipun terkadang banyak faktor yang mendukung untuk mengakhiri tapi sebenarnya akan ada faktor lainnya juga dapat merubah pola berpikir untuk bertahan.
Tapi sayangnya kali ini aku menuliskan semua ini dengan amarah dan kekecewaan yang berkecamuk menjadi satu, meski katanya kita tidak bisa menyalahkan seseorang atas apa yang sudah kita berikan entah itu terbaik ataupun biasa saja hasilnya.
Pernahkah kau berpikir aku melakukan semua yang terbaik meskipun tak pernah kau minta, agar apa? Agar aku terlihat pantas untuk menjadi seseorang yang dapat menemanimu melewati setiap tangga kehidupan dari titik terendah hingga sampai pada titik tertinggi.
Kembali lagi jika dikaitkan dengan takdir, sepertinya kita memang tak berjodoh. Sebaik apapun aku melakukannya akan selalu dianggap membangkang dan lumrah, karena aku akan diupah berdasarkan keluh yang aku berikan.
Bukan aku mengeluh atau tak tahu diri, harusnya kata tersebut aku kembalikan kepadamu bukan? Sedari awal bukankah kau pun sudah tau akan terjadi kembali hal seperti ini? Aku yang memilih akhir dari sebuah awal.
Jika bukan karena mata pancingmu yang mengenai diriku sepertinya aku sudah tidak berada disampingmu dari ratusan hari yang lalu, kau beri segalanya harapan, janji dan mimpi-mimpi indah.
Nihil kenyataan yang terjadi, ketika aku sudah mengatakan aku akan membuat sebuah akhir, kau mengatakan bersedih? Aku orang pertama yang begitu sakit ketika kau mengatakan hal tersebut.
Biar jika nantinya orang akan menilai aku sebagai orang yang tidak dapat menyuarakan apa yang ada dalam hatiku dan hanya melampiaskannya melalui ketikan kecil dalam blog ini. Tidak masalah aku mengalah, bukan kalah melainkan hanya menunggu waktu sampai saatnya tiba.
Tidaklah perlu kau takut, aku diajarkan untuk tidak membalas sesuatu yang diberikan kepadaku dengan cara tidak sehat apalagi buruk. Tapi ingatlah tidak selamanya macan kecil selalu meminum susu, karena nantinya ia akan memburu mangsa.
Memang aku tidak pernah bermain-main dengan apa yang aku ucapkan, setelah lama bersamaku tidak adakah kau mengenali aku? Bukankah aku juga membantumu mengatasi masalah yang harusnya diluar kemampuan diriku? Sadarlah sebelum terlambat dan kau sudah tidak dapat berucap.
Bila mana kau memang ingat sudah berapa kali engkau membohongi aku dan yang lainya? Berapa kali aku bertindak seolah tidak ada sesuatu yang harus aku tagih? Bukankah sebagai orang kepercayaanmu aku dianggap melakukan hal yang sama dengan apa yang kau pikirkan?
Aku berat menanggung semua hal yang tak pernah aku lakukan, aku juga jijik pada setiap hal yang diperintahkan. Taukah itu adalah salah satu alasan mengapa aku akhiri semua ini? Kau tau apa, bukankah hanya uang yang kau sembah saat ini.
Perdulilah kepada dirimu, orang yang kau anggap teman itu tidak akan pernah memperdulikanmu. Caramu memperlakukan mereka dan membeli pertemanan mereka akan menyakitimu nanti kelak, bukan aku mengutuk tapi fakta yang membuat ini tergambarkan.
Sakit kedua, dimana saat kau mengatakan orang yang pernah berusaha bersamamu tidaklah penting. Uang adalah tempat dimana kau memiliki kerabat dekat, jika kita hidup berlimpah uang maka kerabat akan banyak.
Cukup lama aku berpikir keras, apakah benar yang kau maksud adalah orang yang aku anggap sebagai keluarga? Haha... tidak ada bukti lain yang tidak mengarah kepada orang yang aku maksud.
"Hanya ketika kita memiliki uang akan dianggap keluarga, ketika meminjam apa kita tau mereka dapat mengembalikannya? Teman baik ataupun bukan, jika dibantu saat memerlukan bantuan apa dia akan mengantinya nanti? Ini masalah uang". Masih tergiang kata tersebut dalam sanubariku.
Aku tau yang kau maksud, tapi aku mengetahui jelas bagaimana perjuangannya orang tersebut membantumu. Kejam... Uang memang dapat mengubah seseorang.
Tak mengapa aku tak memiliki uang dalam jumlah yang banyak, setidaknya aku akan hidup dengan akal sehat dan juga hati yang bahagia.
Bukankah ketika menjadi mayatpun kita tetap membutuhkan orang untuk menguburkannya kedalam tanah kembali? Atau kau terlalu banyak uang hingga dapat membayar malaikat untuk langsung membawa jasadmu ke neraka.
Memang jika persoalan uang agak sulit menjabarkannya, aku tidak masalah. Beberapa kali ujian yang aku berikan kepadamu sepertinya sudah menunjukan hasil yang tidak aku harapkan, itu juga tidak menjadi sebuah alasan.
Tapi jika kau bisa melupakan seseorang yang begitu berjasa padamu dan memberikannya gelar hal buruk, apakah aku harus berdiri tegak disampingmu dan bertahan? Bagaimana jika aku tak berada disisimu nanti? Akukah nantinya akan dilupakan dan mendapatkan gelar buruk itu? Terimakasih banyak.
Entah berapa banyak sakit yang aku rasakan, aku simpan dan aku lampiaskan keberbagai hal. Namun rasanya ini sudah puncaknya, jika batas sabar dibuat oleh manusia itu sendiri ya aku mengaku ini sudah habis masa sabarku.
Kedepannya biar orang lain yang akan termakan berbagai omongan manismu, dan semua cerita perjuanganmu yang entah benar atau tidak kenyataannya. Intinya aku juga mengetahuinya dari berbagai pihak meskipun ceritanya bertolak belakang dengan apa yang kau katakan.
Biar orang lain saja yang menjadi setara denganmu, aku cukup dapat hidup tertawa sambil meminum kopi dan sebatang rokok saja ketika aku dirumah. Tidak akan ada lagi kata-kata yang terlontar dan harus ku tarik kembali sesuai perintahmu, dan jujur aku menunggu saatnya tiba aku yang benar atas segala ucapanku.
Jangan kau sedih...
Baca juga :
Kelvin Junior
11-11-2019


Post a Comment